3 dari 5 Balita Bertubuh Kerdil, Fatayat NU Peduli Stunting

Posted on

JawaPos.com – Stunting atau anak bertubuh kerdil masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Stunting adalah kondisi panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) anak lebih rendah dari seharusnya PB atau TB menurut umur. Pendek (stunted) atau sangat pendek (severe stunted) adalah kegagalan dalam mencapai pertumbuhan potensial. Stunting dapat dimulai sejak 0 bulan hingga 59 bulan.

Masih tingginya angka stunting di Indonesia membuat Fatayat Nahdatul Ulama (NU) tergerak untuk melakukan strategi lain. Salah satunya dengan menggandeng tokoh lintas agama dan kepercayaan. Mengingat setiap tokoh agama memiliki peran yang strategis ditengah-tengah pengikutnya masing-masing.

Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Ermarini menyatakan kasus stunting ini tentu tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Perlu kerja bersama lintas sektoral untuk membangun percepatan penurunan angka stunting.

“Ini di antara beberapa inisiatif gerakan yang bisa kita lakukan. Kami berharap pemerintah yang punya jangkauan luas bisa melakukan lebih banyak hal lagi” terangnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/6).

Catatan Fatayat NU, data terakhir yang berhasil dihimpun, tercatat sebanyak 37,2 persen anak Indonesia mengalami stunting. Artinya dari 5 anak ada 3 anak yang mengalami stunting. Sementara itu efeknya adalah anak stunting memiliki produktivitas yang rendah karena kondisi IQ dan kelainan hormonal.

Baca Juga :  Catat Ladies, Bikin Payudara Makin Montok dengan 6 Bahan Alami

“Akibatnya, beban negara akan bertambah yang diperkirakan mencapai angka Rp 300 triliun per tahun dari kasus ini,” ujarnya.

Puluhan tokoh lintas agama dan aliran kepercayaan seperti Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Pelkesi, PHDI, Aliran Kepercayaan Bahai, Matakin dan beberapa organisasi Islam bersepakat kasus stunting ini adalah pekerjaan rumah bersama demi menyiapkan masa depan bangsa. Salah satu pengurus Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Lily enuturkan sebagai seorang tokoh agama yang menjadi sumber informasi masyarakat harus mampu menjelaskan berbagai isu termasuk stunting.

“Saya berharap para tokoh agama menyampaikan isu ini dalam ajarannya agar tidak ditemukan lagi kasus gizi anak kedepannya” jelas Lily.

Bentuk keseriusan para tokoh agama ini adalah mereka berhasil menyusun beberapa rekomendasi. Ada tiga domain utama yaitu advokasi, perubahan perilaku dan monitoring.

Advokasi

Tokoh agama harus mampu membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, pihak swasta, sektor pendidikan, media dan lainnya yang terkait. Tujuannya untuk menjaring kerjasama mengatasi masalah stunting ini.

Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku adalah kunci utamanya. Penyadaran masyarakat untuk hidup sehat yang berujung pada perubahan perilaku ini adalah tantangan terbesar. Karena faktor lingkungan dan keluarga adalah kunci terbentuknya perilaku itu sendiri. Sementara, kuatnya akar budaya yang dipercayai masyarakat merupakan penghambat terbesar. Maka, tokoh agama harus bisa menyajikan data dan informasi yang akurat, mudah dicerna dan masuk dalam logika masyarakat. Selain itu, tokoh agama perlu menjadi contoh langsung atas perubahan perilaku tersebut.

Baca Juga :  Hindari Iritasi, Ikuti 4 Langkah Mencukur Bulu Kemaluan dengan Tepat

Monitoring

Tugas pemuka agama dalam mengontrol, mengawasi sekaligus mendampingi pelaksanaan tugas mulia ini. Sehingga kekuatan dan kelemahan apa yang dimiliki atau kendala apa saja yang bisa dievaluasi. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat merasa nyaman dan mudah menerima sesuatu baru dengan baik.

(ika/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar