“Anggur Merah” Setelah alih kekuasaan NTT

Posted on

Kupang (Antaranews Sulsel) – Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya baru merayakan ulang tahunnya ke-58 pada 18 Mei di tempat kelahirannya di Desa Watoone, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Perayaan ulang tahun orang nomor satu di NTT itu, tampaknya merupakan yang terakhir bersama sanak saudara, keluarga dan sahabat kenalan dalam kapasitasnya sebagai gubernur NTT periode 2008-2013 dan 2013-2018.

Pada 16 Juli 2018, pria kelahiran 18 Mei 1960 yang banyak melakukan gebrakan prorakyat dalam spirit “Anggur Merah–Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera” itu, akan mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur NTT.

Sebelumnya meletakkan kekuasaannya, mantan wakil gubernur NTT periode 2003-2008 itu masih menyaksikan proses alih kekuasaan di bumi Flobamora lewat pemilu gubernur yang akan dilaksanakan secara serentak pada 27 Juni 2018.

Nasib program prorakyat seperti Desa Mandiri Anggur Merah atau pers lokal NTT sering menyingkatnya dengan sebutan DeMAM menjadi tanda tanya besar, apakah akan dilanjutkan atau tidak setelah pengalihan kekuasaan di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.

Di tengah menjamurnya program-program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia, pemerintahan Gubernur Frans Lebu Raya juga juga menggelindingkan program yang hampir serupa dengan program yang diberikan oleh pemerintah pusat, yakni DeMAM.

Program DeMAM diluncurkan pada 2011 dengan dukungan dana dari APBD NTT sebesar Rp250 juta untuk semua desa di NTT. Awalnya, hanya 287 desa yang tersebar di 287 kecamatan di seluruh wilayah NTT yang menjadi proyek percontohan dengan didampingi 287 orang fasilitator.

Untuk pelaksanaan program tersebut, dalam DPA Bappeda NTT telah mengalokasikan dana sebesar Rp73,328 miliar untuk Belanja Penyelenggaraan Program Desa Mandiri dimana anggaran tersebut merupakan pemberian bantuan  pinjaman modal usaha kepada masyarakat melalui desa/kelurahan.

Masyarakat desa,  kemudian mengembalikan bantuan modal usaha tersebut kepada desa dan kelurahan untuk digulirkan kembali. Pemberian dana segar langsung ke desa-desa tersebut untuk dikelola dan diatur sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Banyak kalangan kemudian melihat dan menilai bahwa program prorakyat tersebut lebih bermotif mendongkrak citra elektabilitas politik Frans Lebu Raya menjelang pemilu Gubernur NTT pada 2013, karena kebijakan tersebut dinilai terlalu instan, karena digulirkan setelah dua tahun berkuasa.

Publik NTT kemudian dengan mudah menilai bahwa program tersebut mempunyai motif politik jangka panjang  untuk mempertahankan kekuasaan. Namun, program yang diluncurkan Gubernur Frans Lebu Raya itu semata untuk meningkatkan derajat ekonomi masyarakatnya menuju sejahtera, terlepas dari apapun penilaian publik.

Baca Juga :  Mayoritas Rakyat Sulsel Tak Mau Dipimpin Koruptor dan Pembohong

Wujud keberpihakan pemerintah daerah kepada masyarakat desa ini tercermin dalam pengalokasian anggaran yaitu  belanja publik (belanja  langsung) lebih besar dibanding biaya aparatur, karena Gubernur Lebu Raya menganggap bahwa pemberdayaan masyarakatlah yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Gubernur Lebu Raya berpendapat bahwa masyarakat sudah saatnya dipercaya untuk menggunakan dan mengelola    keuangan sendiri untuk mengembangkan usaha produktif. Maka Program DeMAM merupakan spirit utama dalam  program kebijakan pemberdayaan tersebut.

Anggur Merah akhirnya mendapat “restu politik” dari DPRD NTT, karena penggunaan dana sebesar Rp250 juta untuk setiap desa-kelurahan tersebut, tidak untuk dikembalikan kepada pemerintah tetapi digulirkan kembali kepada desa lainnya untuk usaha ekonomi produktif.

“Jika dana telah dikembalikan maka dana tersebut diperuntukkan bagi kelompok usaha yang belum mendapatkan   dana Anggur Merah. Masyarakat sudah seharusnya dipercaya untuk mengelolah dana sendiri agar terjadi kemandirian dan  pengembangan kreatifitas,” kata Gubernur Lebu Raya.

 

Dihentikan

Pandangan publik bahwa Program DeMAM sarat dengan muatan politik, tampak ada benarnya juga, karena pemerintah telah menghentikan anggaran untuk membiayai Program DeMAM sejak 2017 atau setahun setelah berakhirnya masa jabatan kedua Gubernur Frans Lebu Raya pada 16 Juli 2018.   

Menurut Kepala Bappeda NTT Wayan Darmawa, Program DeMAM yang telah menghabiskan dana dari APBD NTT sebesar Rp817,5 miliar untuk dibagikan kepada 3.270 desa di NTT dengan masing-masing desa sebesar Rp250 juta itu, telah dihentikan sejak 2017.

“Program Desa Mandiri Anggur Merah sudah ditutup pada 2017. Kelanjutannya tergantung dari pemerintahan baru, meski telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Atas dasar itu, kami terus mendorong terbentuknya koperasi di setiap desa dan kelurahan untuk mengelola dana tersebut,” katanya.

Gubernur Lebu Raya tampaknya pasrah akan nasib program prorakyat yang digelindingkannya ini.

“Sangat bergantung pada gubernur NTT baru yang akan dipilih melalui proses Pilkada pada 27 Juni 2018. Mestinya bisa dilanjutkan, tetapi semuanya tergantung pada pemerintahan baru. Saya tidak bisa menjanjikan,” katanya.

Frans Rawa, Kepala Desa Watone di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur menginginkan agar program Desa Mandiri Anggur Merah bisa dilanjutkan karena berdampak positif bagi pengembangan ekonomi di desa-desa.

“Jika sebelumnya masyarakat tidak bisa berusaha karena tidak ada modal. Mau pinjam di bank terlalu rumit karena banyak persyaratan, tetapi setelah ada program Anggur Merah masyarakat bisa dengan mudah mendapat modal untuk usaha,” katanya.

Sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya hanya mengharapkan pada sosok Emelia Julia Nomleni, calon wakil gubernur NTT periode 2018-2023 yang diusung partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih dalam lingkaran itu yang akan melanjutkan kepemimpinannya dengan harapan agar Anggur Merah tetap diteruskan.

Baca Juga :  Security PT SNS Ditemukan Tewas Depan Mushallah

“Memang masih ada hal-hal baik yang belum sempat dilakukan. Kita akan terus berjuang. Mudah-mudahan perjuangan dan kepemimpinan ini akan dilanjutkan oleh Emelia Nomleni. Saya cukup mengetahui kemampuan dan ketenangan Ibu Nomleni. Dia bisa berkomunikasi dengan semua orang, dan bisa memecahkan masalah dengan kepala dingin,” katanya.

Saat ini, Emelia Nomleni masih berjalan sendiri, karena calon gubernur NTT Marianus Sae yang mendampinginya dalam perhelatan politik lima tahunan tersebut, masih berurusan hukum dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat terkena operasi tangkap tangan (OTT) di Surabaya, Jawa Timur atas tuduhan melakukan tindak pidana korupsi.

“Saya menyadari betul bagaimana situasi politik yang dihadapi Ibu Nomleni saat ini. Meski tanpa didampingi calon gubernur, ibu Nomleni mampu berjuang untuk menang sampai di titik final. Walaupun dia seorang diri, saya optimistis rakyat NTT tak akan melupakannya,” kata Lebu Raya.

Dalam sebuah wawancara dengan Antara, Emelia Nomleni dengan tegas mengatakan akan terus melanjutkan Program Desa Mandiri Anggur Merah jika kelak terpilih oleh rakyat untuk memimpin daerah kepulauan ini pada Pilkada 27 Juni 2018.

“Bicara soal pemberdayaan ekonomi, Program Desa Mandiri Anggur Merah tentu tetap diteruskan, karena telah meningkatkan derajat hidup masyarakat NTT ke arah yang lebih baik dan produktif, selain sebagai program unggulan Gubernur Frans Lebu Raya selama 10 tahun memimpin daerah ini,” katanya.

Meskipun Program DeMAM akan dilanjutkan, namun perlu dilakukan kajian dan evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan program prorakyat tersebut, karena program DeMAM sudan menjadi sebuah kekuatan baru dalam pemberdayaan ekonomi rakyat di NTT.

Nasib Anggur Merah sesungguhnya tergantung pada kepemimpinan NTT yang baru lewat alih kekuasaan pada Pilkada 27 Juni 2018, namun Emelia Nomleni telah memberi sinyal positif untuk melanjutkan, meski belum mencapai di titik final tujuannya.        



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar