ASITA Siapkan Skenario Jika Dampak Letusan Merapi ke Borobudur Tinggi

Posted on

JawaPos.com -Bergejolaknya Gunung Merapi membuat sejumlah pihak berbenah dan melakukan persiapan. Salah satunya, Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Mereka telah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi menurunnya kunjungan wisata dari turis mancanegara, akibat gejolak Merapi yang meningkat beberapa waktu belakangan.

Ketua ASITA DIJ Udhi Sudiyanto mengatakan, skenario itu dilakukan bila nantinya para turis kecewa ketika berkunjung ke Candi Borobudur durasinya lebih sedikit dibandingkan hari biasa karena sempat terselimuti abu vulkanik.

LUMPUH: Warung-warung di kawasan tempat parkir Tlogo Putri Kaliurang tutup, karena adanya peningkatan aktivitas Merapi (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

“Permasalahan muncul bila Borobudur tidak bisa dikunjungi atau durasinya semakin sedikit karena tertutup abu. Sejauh ini memang belum ada komplain, dan kunjungan masih tetap biasa,” katanya, kepada JawaPos.com, Jumat (25/5).

Candi Borobudur, imbuhnya selama ini masih menjadi primadona bagi turis mancanegara. Langkah-langkah yang dilakukan ketika para pelancong kecewa seperti dengan memperkenalkan objek-objek wisata menarik lainnya yang ada di seputaran Jogja dan sekitarnya.

Alternatif lain yang masuk wisata heritage seperti Candi Prambanan, Plaosan, Cetho, maupun Sukuh. Selain itu juga memberitahu foto-foto up to date tentang kondisi Jogjakarta.

“Jangan sampai wisatawan berpikir hujan abu vulkanik itu merata, padahal hanya di beberapa titik dan yang perlu diperhatikan radius terdekat Merapi saja,” tuturnya.

Alternatif lain jika Bandara Adisutjipto ditutup atau gejolak Merapi semakin meningkat, juga bisa dengan mengajak para turis ke Solo. Objek-objek wisata yang ada di sana, menurutnya juga cukup menjual bagi wisatawan asing.

Lanjut Udhi, sejauh ini gejolak Merapi yang terjadi dan peningkatan status dari normal menjadi waspada tidak terlalu banyak terpengaruh. Namun, menurutnya teror bom yang terjadi di Surabaya yang menjadi pertimbangan turis datang ke Jogja. “Ada yang menanyakan bagaimana kondisi Jogja,” ucapnya.

Atas kejadian teror bom itu, menurutnya ada sekitar 5 persen turis asing yang melakukan penjadwalan ulang. Mereka paling banyak dari Singapura, Malaysia, Korea, Tiongkok, Vietnam.

“Belum ada yang melakukan pembatalan. Kalau untuk Eropa tidak berpengaruh, wisatawan datang pada akhir Mei dan awal Juni mendatang,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Balai Konservasi Borobudur, Tri Hartono mengatakan, sejauh ini abu vulkanik dari Merapi masih tipis. Belum terlalu diperlukan dengan memasang stupa memakai cover untuk melindunginya. “Kalau dipasang (cover) artinya pariwisata ditutup,” paparnya.

(dho/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar