Beban Berat Hanung Bramantyo Garap ‘Bumi Manusia’

Posted on
Jakarta

Beberapa tahun lalu, sutradara Hanung Bramantyo seperti sebuah jaminan pencetak film box office. Karya-karyanya sudah pasti menuai pujian.

Dari lima film terakhir yang dibuatnya, hanya dua yang menembus lebih dari satu setengah juta pentonton. Film itu adalah ‘Surga yang Tak Dirindukan 2’ pada 2017 dengan jumlah pentonton 1,6 juta lebih. Dan juga ‘Rudy Habibie pada 2016 dengan 2 juta penonton lebih.

Sementara karya-karya besar lainnya seperti ‘Jomblo’ dan ‘Talak 3’ hanya meraih penonton di bawah satu juta. Tapi tentu saja yang paling mendapat atensi sedikit ketika ia menggarap ‘Kartini’ dan juga ‘Benyamin Biang Kerok’.

Film terakhir bahkan sampai saat ini menyimpan luka mendalam untuk para pecinta Benyamin. Apa yang ditampilkan Hanung jauh dari ekspektasi tinggi penggemar.

Selain Benyamin, ada beberapa film biopik tentang orang-orang penting Indonesia pernah digarap Hanung lewat ‘Sang Pencerah’, ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’ dan ‘Kartini’. Hanya ‘Sang Pencerah’, film biopik tentang Ahmad Dahlan, yang mampu menarik lebih dari satu juta penonton.

Hanung Bramantyo pun kini bakal kembali memikul beban berat setelah diumumkan bakal menggarap film ‘Bumi Manusia’ yang diangkat dari karya Pramoedya Ananta Toer. Hanung juga tahu benar buku tersebut begitu penting.

Mengisahkan tentang sosok Minke, anak pribumi yang sekolah di tengah anak-anak keturunan Eropa. Minke sangat pandai menulis dan mudah membuat orang kagum. Lebih dari itu, Minke adalah revolusioner yang melawan ketidakadilan pada bangsanya. Ia juga mendobrak kebudayaan Jawa yang dianggap membuatnya selalu berada di bawah.

Pramoedya Ananta Toer menulis buku tersebut ketika mendekam di Pulau Buru era 70’an. Dengan berbagai penolakan yang datang, buku itu justru makin besar setelah diterbitkan dalam 33 bahasa.

“Ini berangkat dari mimpi, ini novel penting sekali. Saya fanboy para budayawan seperti Rendra yang melawan penindasan zaman pemerintahan yang kuat. Saya. merasa keren karena kami berani menentang pemerintah. Akhirnya saya terbawa dan nekat ketemu Pak Pram,” kisah Hanung.

(nu2/doc)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar