Berhenti Jadi Artis dan Lepas Duniawi, Perjuangan Peggy Melati Sukma Hijrah

Posted on
Jakarta

Hijrah ternyata tak semudah membalikan telapak tangan. Itulah yang dilihat oleh seorang Peggy Melati Sukma yang kini dikenal sebagai Khadija.

Mengubah penampilan menjadi lebih baik ternyata bukan perkara hanya sekadar menutup aurat. Akan tetapi, hijrah menurutnya juga harus bisa mengubah secara rohani.

“Karena saya merasakan dalam proses hijrah saya ketika kemudian, saya melakukan hijrah menganggapnya hijrah itu hanya persoalan menutup aurat maka secara spiritual atau batin nggak kegarap. Karena menutup aurat medianya adalah tubuh bagian luar. padahal manusia bagiannya, jasad, kemudian ruh, lalu akal. Sentralnya bukan pada jasad, bukan pada akal, tapi pada rohaniah,” beber Khadija saat ngobrol santai dengan detikHOT di di Smart Office Lotte Shopping Avenue, Lantai 2 di Jalan Profesor Doktor Satrio, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan.

Jasad dan akal menjadikan kita makhluk Allah yang logis. Rentetan pertanyaan, mengapa, apa, bagaimana, dan siapa akan terus menghantui pikirannya setiap saat.

Dengan begitu bintang sinetron yang hits karena jargonnya dalam sinetron ‘Gerhana’ membuatnya sadar harus pelan-pelan membenarkan dirinya secara rohani. Cepat atau lambat, Allah sudah menjanjikan akan mencabut semua yang ada di dunia.

“Semua yang ada di dunia Allah akan binasahkan, Allah akan hancurkan, jadi mau kamu punya mobil 2 miliar, punya gedung ratusan tingkat, kamu mau bikin senjata paling canggih, ingat janji Allah, waktu akan segera tiba Allah akan hancurkan semua,” tegas peremuan yang kini menyibukan diri dibidang dakwah dan kegiatan sosial itu.

20 tahun menekuni dunia keartisan, tentu sulit untuk Khadija melepaskan semua yang berbau duniawi. Perlahan Khadija menanggalkan atribut keartisannya.

“Maka ketika ingin melepaskan diri dari keterikatan dunia mesti melakukan perjuangan, perjuangannya apa? Ya apa yang terikat harus dilepaskan. Itu bagaikan metode, rumusnya gitu dulu. Orang selalu tanya terus kalau dilepasin, misalnya mundur dari dunia keartisan, kemudian saya dulu juga pengusaha punya beberapa korporasi, kemudian korporasi saya tutup-tutup dulu, kemudian kontrak proyek diberbagai tempat saya batalkan dan seterusnya,” aku Khadija.

Khadija sudah memahami berhijrah butuh pengorbanan untuk sesuatu yang baik. Untuk melangkah menjadi pribadi yang lebih baik tentunya Khadija harus melewati ujian kehidupan.

“Hijrah seperti itu ada periode kita jalani dulu struglenya, susahnya melepaskan diri. periode ini mesti kita jalankan dulu. Hijrah insya Allah kita masuk ke jenjang perjalanan yang lebih baik dengan tujuan dan niat yang lebih jelas dengan rido Allah taala, dengan track dan perilaku yang kemudian lebih tertata dengan nilai syariat,” katanya.

“Saya menjadi orang yang sangat terikat sekali pada dunia ya pada saat itu, saya orang yang sangat logic, pendidikan saya semua bisa saya selesaikan dengan kumlaud, saya berprestasi jadi yang terbaik. Jadi saya terbentuk menjadi individu yang using akal, knowledge, intelektual, padahal kalau kita mati masuk ke alam kubur nggak ada itu semua. Ukuran pada penilaian Allah nggak ada intelektualitas kita,” pungkas Khadija.


(pus/ken)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar