Berita Kota Makassar | ”Alhamdulillah, Tidak Belima Lagi Beras”

Posted on

NAMANYA Jumaria. Usianya kini 47 tahun. Ia seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai buruh. Ramadan Berbagi Harian Berita Kota Makassar (BKM) memberinya bantuan.

Laporan: Juni Sewang

SENIN siang (28/5) di gang sempit Jalan Maccini Sawah. Pada sebuah kamar kontrakan ukuran petak 2×5 meter.
Di sinilah Jumaria tinggal bersama suami dan anak-anaknya. Setiap bulan tempat ini disewanya Rp400 ribu. Ada pula beban pembayaran litrik Rp50 ribu dan air bersih Rp10 ribu.
Suami Jumaria bernama Baharuddin (47) berprofesi sebagai pekerja bengkel dico mobil. Sudah 12 tahun kebersamaan mereka. Pasangan ini telah dikaruniai tujuh orang putra putri.
Jumaria berasal dari Kabupaten Sinjai. Sedangkan suaminya dari Malino, Kabupaten Gowa.
”Ya….beginimi keadaan kami. Mau diapa,” tuturnya pasrah.
Menurut Jumaria, dari tujuh anaknya, tiga di antaranya sudah menikah. Yang pertama dan kedua sudah tidak tinggal serumah dengannya. Mereka ikut suaminya masing-masing dan menetap di luar Makassar. Bahkan ada yang di Kalimantan.
”Kalau adiknya yang ketiga baru juga menikah. Tapi masih serumah dengan saya, karena pengantin baru. Tidak adapi juga kerjanya suaminya,” kata Jumaria.
Sebagai buruh cuci, Jumariah mendapat upah Rp200 ribu setiap bulan. Itupun hanya sanggup melayani dua rumah dalam sehari.
Memiliki anak yang masih kecil, memaksa dirinya harus ekstra bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya
“Suami saya kadang kerja, kadang tidak. Kalau ada lagi bengkel panggilki, ikutki kerja. Biasa dia dapat Rp50 ribu sehari. Itumi kita kumpul-kumpul untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terangnya.
Saat ini, anak-anaknya yang tinggal bersama Jumariah masih bersekolah. ”Kalau yang keempat di kelas dua SMA. Adik-adiknya masih SD,” ujarnya.
Dari mana ia mendapatkan uang untuk membiayai sekolah keempat anaknya? ”Alhamdulillah, semua dapat beasiswa program Anak Kategori Pintar Sekolah. Yang SMA dapat Rp500 ribu setiap bulan. Yang SD Rp250 ribu per bulan. Itumi juga biasa uangnya kita pakai untuk kebutuhan rumah tangga. Dikasih cukup-cukup saja. Saya juga pernah dapat bantuan pemerintah Rp500 ribu per bulan melalui Program Keluarga Harapan,” jelas Jumariah.
Jumaria bersyukur, selama bulan ramadan ini ia dan keluarganya mendapat banyak rezeki. ”Kalau sahur atau bukan puasa, ada orang yang biasa kasiki makanan. Tapi kalau tidak ada, biasanya makan apa adanya. Seperti mi instan,” imbuhnya.
Dalam penuturannya, Jumaria sempat mengingat kembali kedua orang anaknya yang telah menikah. Sebab, sejak membangun rumah tangga hingga sekarang, mereka tak pernah menemui dirinya. Penyebabnya, kedua menantunya berprofesi sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak menentu.
”Selama sudah kawin, mereka tidak pernah datang. Adiknya kawin, juga tidak datang. Cuma telepon saja, bilang tidak ada uangnya beli tiket untuk pulang. Itupun dia menelepon di tetangga, karena saya tidak punya telepon. Tidak pernah juga nakirimkanki apa-apa, karena tidak ada juga apa-apanya,” ujarnya dengan nada sedih.
Di balik kesedihannya, Jumaria menyatakan rasa syukurnya atas kepedulian Harian BKM yang mengulurkan bantuan untuk ia dan keluarganya. Sembako serta perlengkapan alat salat dari donatur, didapatkan Jumariah di bulan yang penuh berkah ini. Penyerahannya dilakukan Pemimpin Redaksi Muh Arsan Fitri.
”Alhamdulillah, tidak belima dulu beras. Karena ada bantuan dikasika. Terima kasih banyak,” ucapnya. (*/rus)

Baca Juga :  Berita Kota Makassar | DPO Pembunuhan di Malam Tahun Baru Didor

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar