Berita Kota Makassar | Dewan Bidik Amdal Empat Gudang Besar

Posted on

MAKASSAR, BKM — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar membidik empat perusahaan terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan). Dalam pekan ini keempat perusahaan tersebut dipanggil guna dimintai penjelasan. Masing-masing PT Coca Cola, PT Indofood, PT Eastern Pearl Flour Mills dan PT Makassar Te’ne.
Sebelumnya, pada hari Sabtu (2/6) keempat pemilik gudang besar itu telah dipanggil untuk menghadiri rapat di dewan. Namun, hanya dua perusahaan yang hadir. Yakni PT Indofood dan PT Flour Mills. Itupun sekadar datang tanpa membawa dokumen yang diminta oleh anggota dewan. Karenanya, pemanggilan terhadap keempatnya kembali dijadwal ulang.
Ketua Komisi C DPRD Makassar Rahman Pina, mengatakan pemangilan ini untuk membahas soal IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), Amdal/Amdal Lalin serta UPL-UKL pergudangan besar. Dewan memilih fokus terhadap empat perusahaan tersebut, karena dinilai perlu untuk melakukan peninjauan ulang. Setelah itu baru menuntaskan gudang kecil yang masih bermasalah soal amdal.
“Selama ini yang kita tahu, izin Amdal dan IPAL sudah mereka kantongi sejak gudangnya berdiri. Artinya, izi itu keluar pada saat gudang itu masih skala kecil. Karenanya, saat ini kita mau periksa apakah empat perusahaan ini sudah merevisi izinnya sesuai skala gudangnya yang sudah besar,” kata Rahman Pina di gedung dewan, kemarin.
Legislator Fraksi Golkar ini menegaskan, akan ada beberapa lagi gudang dipanggil oleh dewan dalam waktu dekat. Termasuk melakukan pengawasan terhadap beberapa perusahaan asing yang beroperasi di Kota Makassar. Hal ini sebagai bentuk evaluasi terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan.
“Kita akan memanggil semua perusahaan gudang besar di Makassar. Terutama yang PMA (Penanaman Modal Asing) itu. Kita sedang mengevaluasi semua terkait dengan perizinan, tenaga kerja. Kan banyak perusahaan yang melaporkan tenaga kerja dan penanganan limbahnya yang tidak sesuai,” bebernya.
Diakui, masih banyak perusahaan yang lalai terhadap analisis dampak lingkungan. Bahkan terjadi pada perusahaan skala besar.
“Dari laporan DLHD (Dinas Lingkungan Hidup Daerah), banyak perusahaan besar tapi kurang memperhatikan Amdal. Ini yang kita evaluasi supaya seluruh perusahan, baik skala besar dan menengah benar-benar peduli soal Amdal,” tandasnya.
Anggota Komisi C Susuman Halim, menambahkan bahwa berdasarkan laporan DLHD, PT Flour Mills termasuk yang terbaik. Bahkan masuk kategori tiga, yang berarti seluruh persyaratan lingkungannya terpenuhi. ”Itu semua bakal kita evaluasi,” ujarnya.
Asisten Manager GA PT Eastern Pearl Flour Mills Bambang, mengklaim perusahaannya minim limbah B3. PT Eastern bahkan mendapat sertifikat proper biru dari BLHD sebagai bukti bahwa perusahaan tersebut menaati aturan terkait Amdal.
“Kita tidak ada limbahnya selama ini. Bahkan kita sudah dapat sertifikat proper biru dari DLHD. Tentunya kita taat aturanlah terkait Amdal,” terangnya. (ita/rus)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar