Berita Kota Makassar | Jangan Biarkan Tambang Liar Beroperasi tak Terkendali

Posted on

PRAKTIK penambangan yang kian marak di Bulu Allakuang, Sidrap kini tinggal menyisakan bukit bebatuannya sekitar 40 persen. Menghentikannya menjadi solusi terbaik untuk mempertahankan sebuah cagar budaya.

Laporan: Purmadi

ADA tiga tempat bersejarah yang masuk dalam kawasan cagar budaya Allakuang. Masing-masing Masjid Jerra’e, makam Nene’ Mallomo dan Bungnge Citta (Sumur Cipta).
Konon, Masjid Tua Jerra’e Sidrap merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Sulawesi Selatan. Umuranya berkisar 400 tahun. Dibangun pada abad 18 masehi. Dari sini pula cikal bakal berkembangnya agama Islam di Kabupaten Sidrap pada masa itu.
Hingga saat ini, Masjid Jerra’e masih terawat. Mayoritas masyarakat Allakuang masih menjadikannya tempat favorit untuk beribadah. Terutama pada bulan suci ramadan.
Masjid tertua di Ajatappareng, dan termasuk salah satu masjid tertua di Sulsel tersebut terletak di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Sidrap. Dibangun sekitar tahun 1016 H atau 1609 Masehi oleh Syekh Bojo, La Patiroi, dan Lapagala Petta Pabbicarae atau akrab dikenal dengan nama Nene’ Mallomo.
Imam Masjid Tua Jerrae H Indar, mengatakan selama bulan Ramadan, banyak warga yang memilih masjid tersebut untuk beribadah.
“Meski tak jauh dari tempat ini juga terdapat masjid, tapi masih ada juga yang memilih beribadah di sini. Bahkan ada juga yang sengaja singgah dari daerah lain hanya untuk beribadah di masjid ini,” kata H Indar.
Arsitektur masjid tersebut masih mempertahankan model bangunan aslinya. Hanya sebagian kecil yang sudah direhabilitasi karena lapuk dimakan usia.
Seperti terdapat 49 tiang yang masih kokoh. Tiang ini disebutkan berasal dari pohon cabe, canagori, dan lilupang. Hanya atapnya yang dulu berasal dari ijuk. Namun kini sudah diganti dengan atap seng.
“Beribadah di tempat ini mengingatkan kita asal mula penyebaran agama Islam di Sidrap. Ada nilai historis yang membedakannya dengan masjid lainnya,” ujar Hisbullah, warga setempat.
Sementara makam Nene’ Mallomo yang masih terawat, berlokasi di sebelah barat Bulu Allakuang. Tepat di sisi barat bahu jalan poros Sidrap-Soppeng, Desa Allakuang.
Salah satu sumur tertua di Sulsel, yakni Bungnge Citta juga ada di kawasan ini. Konon sumur ini dibuat oleh Nene’ Mallomo hanya dengan satu kali hentakan tongkat miliknya.
Bekas hentakan itu memunculkan air sangat deras, yang hingga kini tidak pernah mengenal musim. Air yang berbentuk kolam itu tak pernah kering sepanjang masa. Saat ini, inisiatif masyarakat setempat memanfaatkannya dengan membuat lokasi wisata permandian.
“Alhamdulillah sudah banyak pengunjungnya dan diminati masyarakat untuk berwisata mandi-mandi. Terutama anak-anak,” ungkap Wahyudin, warga setempat.
Diapun berharap, kelestarian cagar budaya di Allakuang terus dipertahankan agar anak cucu bisa menikmatinya. “Ini harapan kami cagar budaya ini, terutama masjid Jerrae dan Bungnge Citta serta makam Nene’ Mallomo dilestarikan,” ucap Wahyuddin diamini warga Allakuang lainnya, Ibu Kasmia.
Pemerhati lingkungan Ahmad Yusuf, menegaskan pentingnya pemerintah menyikapi fenomena penambangan secara ilegal di lokasi Bulu Allakuang. Sebab, jika dibiarkan tambang liar beroperasi secara tidak terkendali, maka dipastikan kondisi ikon Sidrap ini akan punah.
“Manfaatnya ke masyarakat setempat memang bagus sebagai mata pencaharian utama. Tapi ini harus mempunyai regulasi baru agar penambangan bisa terkendali. Maksud saya, jangan semena-mena mengerus batu. Ini ini harus dikontrol agar Bulu Allakuang bisa bertahan lebih lama lagi,” tegasnya. (*/rus/b)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar