Berita Kota Makassar | ”Kalau tidak Ada Kasiki Ikan, Seadanyamo Dimakan”

Posted on

SEMPAT berada pada karir yang cemerlang, kini hidupnya penuh dengan kekurangan. Itulah yang dirasakan Ibrahim. Saat ramadan seperti saat ini pun, ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DULUNYA Ibrahim pernah memiliki karir mumpuni di dunia sepak bola. Bahkan ia sempat mencicipi berlaga di Liga Perserikatan bersama dengan PSM dan Persija. Namun kini, ia bekerja menjadi seorang security.
“Saya di PSM dari level junior mulai 1983 lalu. Terus, naik ke level senior itu tahun 1986. Sempat beberapa tahun di PSM. Terus pindah ke Persija tahun 1990. Kalau di PSM dulu, lebih dikenalka dengan nama Rahim,” kata pria yang mengaku berposisi sebagai sayap kanan saat membela PSM ini.
Hingga pada 2010 lalu, karena tak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya guna menyambung kehidupannya dengan lebih layak, Ibrahim pun memutuskan untuk menjadi seorang petugas keamanan. Hal ini ia lakoni dengan sedikit paksaan.
Ibrahim yang telah berusia 53 tahun kini bekerja sebagai security di salah satu perumahan di Jalan Mappaodang, Makassar. Tepatnya di kompleks Perumahan Griya Permata Mappaodang. Ia berjaga di sana selama seharian penuh.
Ibrahim bertugas menjaga perumahan itu tiap dua hari sekali. Ketika jadwal tugasnya tiba, ia harus menjaga seluruh perumahan itu selama 24 jam lamanya. Makanya, saat sahur dan berbuka di bulan ramadan, ia jarang bersama keluarganya.
“Ada dua orang security di sini. Sebenarnya bisa saja saya kerja shift hanya 12 jam sehari. Tapi yang saya pikirkan ongkos perjalanannya. Harus pulang balik ke rumah tiap hari. Makanya, lebih baik di sini seharian. Dan itu haruski masuk terus, karena kalau tidak, dipotong gajita,” tutur Ibrahim.
Makanya, tak jarang ia menerima pemberian makanan dari pemilik rumah yang ada di perumahan itu. Biasanya hanya sebungkus nasi dan seekor ikan bandeng dari hasil pemberian orang. Itulah yang ia santap untuk sahur maupun berbuka puasa.
“Ya, kalau tidak ada kasihki ikan, seadanyamo dimakan. Biar tempeji. Kalau lagi kerjaka, makan di siniji. Kalau lagi tidak kerja, ya apa yang saya dapat, itu saya bawa pulang untuk makan sama istri dan anak,” ucapnya.
Rumah Ibrahim terletak cukup jauh dari lokasi kerjanya sekarang. Tepatnya di Jalan Lompobattang, Makassar. Jika motor tuanya sedang bermasalah, ia mesti mengeluarkan uang lebih untuk mencapai lokasi kerjanya.
Ia tinggal bersama istrinya bernama Kurniati dan tiga anaknya. Karena tak mampunya Ibrahim membiayai kebutuhan mereka, semua anaknya pun putus sekolah. Bahkan anak bungsunya yang berusia 14 tahun, kini terpaksa harus bekerja membantu keuangan keluarga dengan menjadi seorang pelayan rumah makan.
Ibrahim kini tak berharap banyak di sisa hidupnya. Ia mengatakan jika saat ini dirinya hanya memikirkan bagaimana caranya bisa makan sehari-hari. Apalagi saat sedang puasa seperti ini, yang penting baginya adalah bisa sahur dan berbuka.
Faktor usia yang tak muda lagi hingga seringnya ia terkena sakit, membuatnya pasrah bekerja seperti ini. (*/rus/b)

Baca Juga :  Berita Kota Makassar | 19 Jukir Terciduk Pungli di Pasar Butung

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar