Berita Kota Makassar | Keliling Jual Bedak Dingin, Berharap Bertemu JK

Posted on

UMURNYA kira-kira 70-an tahun. Semangatnya masih tetap berkobar. Sebagai janda yang hidup sebatang kara, ia ogah untuk hidup bergantung pada orang lain.

LAPORAN: NUGROHO NAFIKA KASSA

RABU (6/6) siang, tim Ramadan Berbagi Harian Berita Kota Makassar (BKM) menyusuri jalan kecil di Jalan Sukaria, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Tujuannya adalah sebuah rumah tua yang terletak tidak jauh ke arah Jalan Racing Centre.
Rumah itu adalah milik Syarifa. Janda tua yang kini hidup sebatang kara. Ukurannya begitu kecil. Dahulu ini adalah rumah panggung. Di bawahnya dibuat dinding tripleks untuk menyekat beberapa ruangan.
Lantaran telah ditinggal meninggal suaminya sejak tahun 1982, Syarifa tak mampu lagi merawat rumahnya. Apalagi ia tak memiliki pekerjaan. Dahulu Arsyad, suaminya adalah karyawan PT Bumi Karsa, sebuah perusahaan milik HM Jusuf Kalla (JK).
Kini, rumah panggung itu nyaris rubuh. Syarifa bahkan tak pernah lagi naik ke atas. Ia memilih tinggal di kolong rumah.
“Rumah di atas kayunya sudah lapuk. Saya takut ke atas jangan sampai roboh. Saya juga sudah tidak kuat naik tangga,” kata Syarifa saat menyambut tim Ramadan Berbagi BKM.
Ia pun menyilakan kami duduk di beberapa kursi plastik di ruang tamu, yang sekaligus ruang salat dan mengaji.
Ruangan ini hanya disemen kasar. Tak menggunakan keramik. Setiap orang yang masuk tak perlu melepas alas kaki. Dalam ruangan tampak beberapa Alquran tersusun rapi. Tidak jauh dari Alquran ada lipatan sajadah dan mukena.
“Saya kalau salat di sini nak….Mengaji juga. Kalau selesai salat dhuha saya selalu mengaji,” tuturnya.
Syarifa lalu menceritakan perjalanan hidupnya ke tim. Ia menikah dengan Arsyad sekitar tahun 1970-an. Hanya saja, dia tidak ingat tahunnya yang tepat. Namun, dari pernikahannya, mereka tak dikaruniai anak. Hingga akhirnya sang suami berpulang.
Diakui, di masa suaminya hidup, ia berkecukupan. Apalagi Arsyad bekerja di perusahaan milik Jusuf Kalla.
“Pak Jusuf Kalla itu orang baik. Sangat baik. Semua keluarganya. Termasuk Pak Alwi Hamu. Setiap saya keluar jualan, saya berharap bisa bertemu dengan Pak Jusuf Kalla,” kata Syarifa yang mengaku masih memiliki hubungan keluarga dengan juru bicara Wapres JK, Husain Abdullah.
Bahkan, saat diambil gambarnya dan diberitahu akan dimuat di koran, Syarifa sangat bahagia. “Semoga Pak JK lihat dan baca,” katanya sambil tersenyum.
Karakter Syarifa adalah orang yang tidak mau hidupnya bergantung dengan orang lain. Sejak suaminya meninggal, ia pun memilih berjualan. Apa saja, yang penting bisa untuk menyambung hidup.
Bahkan, di usia senjanya yang sudah mencapai 70 tahun lebih, ia tetap keliling kota menjajakan bedak dingin. Bedak yang terbuat dari tepung beras dan beberapa bahan lain ini dibuatnya sendiri. Ia kemas dalam kantung plastik kecil. Setiap kantung isinya lima bulatan bedak.
“Harganya Rp500 per kantung. Kecil memang. Tapi Alhamdulillah bisa untuk bertahan hidup di Makassar. Setiap hari saya jual dari rumah ke rumah. Tapi selama bulan puasa saya libur,” kata Syarifa bersemangat.
Makanya, saat diberitahu ia akan menerima paket sembako dari Berita Kota Makassar, Syarifa sangat bahagia. Ia tak menyangka ada koran yang peduli dengan hidupnya saat ini.
“Terima kasih, Nak. Saya senang sekali bisa dikunjungi dan menerima bantuan ini. Salam saya untuk orang di kantor dan semoga rezeki Berita Kota makin banyak,” kata Syarifa.
Usai menerima bantuan ini, Syarifa pun membaca beberapa doa sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukurnya. (*/b)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar