Berita Kota Makassar | Pengamat: Rakyat Bosan Klan Politik Tertentu

Posted on

MAKASSAR, BKM — Hasil hitung cepat (quick count) pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Sulsel telah diketahui. Dari mereka yang unggul dalam raihan suara, membuktikan jika rakyat menolak dinasti dan politik kekerabatan.
Sejumlah calon yang berhubungan dengan politik dinasti menjadi perhatian serius para wajib pilih. Bahkan sudah ada yang dipastikan kalah.
Berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count dan real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada beberapa calon yang berhubungan dengan politik dinasti hampir pasti kalah di kontestasi. Seperti pada pilwali Makassar. Andi Rachmatika Dewi, calon wakil wali kota yang merupakan keponakan mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin berpotensi kalah.
Di pilbup Pinrang Andi Sofyan Nawir, putra mantan bupati dua periode Andi Nawir Pasinringi, juga hampir pasti kalah. Di pilbup Sidrap, Fatmawati Rusdi Masse, istri bupati H Rusdi Masse yang berpasangan dengan Abd Madjid juga tumbang.
Di pilbup Wajo, lain menantu Bupati Andi Burhanuddin Unru, dr Baso Rahmanuddin yang berpasangan Anwar Sadat bin Abd Malik juga dipastikan kalah.
Untuk pilgub, adik mantan Gubernur Sulsel dua periode Syahrul Yasin Limpo, yakni Ichsan Yasin Limpo yang berpasangan dengan Andi Mudzakkar, juga kalah dari pasangan Nurdin Abdullah yang menggandeng Andi Sudirman Sulaiman.
Meski demikian, ada juga calon yang memiliki kaitan dengan politik dinasti menang di pilbup. Yakni dua putra mantan bupati. Masing-masing Ilhamsyah Azikin, putra mantan Bupati Bantaeng dua periode Azikin Solthan. Serta Andi Seto Gadhista, putra mantan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa.
Pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhmmad, menilai jika rakyat kini memang membutuhkan figur baru yang dinilainya lebih baik. “Nurdin Abdullah dikenal berhasil di pemerintahan dan juga akademis,” ujar Firdaus, kemarin.
Sementara dosen politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono, mengatakan bisa jadi kekalahan itu karena masyarakat sudah benar-benar tidak menginginkan calon tersebut. “Ada semacam faktor kebosanan yang menghinggapi masyarakat, sehingga tidak lagi memilih klan politik tertentu. Masalahnya adalah, jangan-jangan ada kecenderungan, klan politik yang satu tidak terpilih, tapi kemudian memunculkan klan politik baru,” terang Arief.
Dosen politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, mengakui bila politik dinasti memiliki pengaruh yang cukup besar. “Saya kira isu dinasti ada pengaruhnya, meskipun bukan faktor tunggal. Kelemahan utama saya kira di soal infrastruktur pemenangan. Tanpa dukungan infrastruktur partai dan birokrasi sulit mengulang kesuksesan masa lalu. Faktor dukungan SYL juga semakin memudar untuk dijadikan branding elektoral kandidat. Segmen pemilih rasional kita yang jumlahnya semakin bertambah juga rentan berpindah pilihan dengan isu-isu dinasti dan korupsi,” beber Luhur.
Pendapat sama juga dilontarkan Dr Azwar Hasan. Komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Sulsel ini juga mengungkapkan adanya pergeseran pertimbangan yang rasional.
“Itu artinya ikatan primordial dalam politik mulai bergeser kepada pertimbangan rasional,” pungkas Azwar Hasan. (arf-nug/rus)

Baca Juga :  PSM tidak belanja pemain untuk putaran kedua

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar