Berita Kota Makassar | Polda Sebut Ada Kampus Disusupi Paham Radikalisme

Posted on

MAKASSAR, BKM — Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel saat ini tengah memantau potensi merebaknya paham radikalisme di kampus-kampus. Sebab tidak dipungkiri, ada beberapa kampus di Sulsel yang diketahui telah tersusupi paham ini.
Hanya saja, Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani yang dihubungi, kemarin masih enggan menyebutkan kampus tersebut. Namun dia memastikan, sejauh ini situasinya masih kondusif.
”Nanti kami dari polda akan melakukan kunjungan dan silaturahmi ke sejumlah kampus,” ujarnya.
Menurut Dicky, polisi tidak bisa bekerja sendiri dalam melakukan pencegahan. Butuh kerja sama serta dukungan dari berbagai pihak, seperti kampus, tokoh agama, pemerintah serta aparat hukum lainnya.
Upaya deteksi dini juga intens dilakukan polisi. Kepada para rektor diimbau untuk bekerja sama dalam mencegah masuknya paham radikal di kampus mereka.
Sebab, selama ini kampus menjadi sasaran paling empuk masuknya paham tersebut. Sementara aksi terorisme berkembang dari sikap-sikap radikal, sehingga kampus mesti berhati-hati. Harus memiliki daya tahan dan daya tangkal terhadap paham-paham radikalisme. Jika tidak, akan sangat berbahaya.
Mengantisipasi menyusupnya paham radikalisme di kampus, Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin mulai mengawasi kegiatan mahasiswa.
Humas dan Protokoler Unhas Ishaq Rahman, menegaskan isu masuknya paham radikalisme ke dalam kampus sudah lama berembus. Pihaknya sudah melakukan antisipasi dan pencegahan.
Bahkan Unhas, kata Ishaq, sudah lebih sistemik melakukan pengawasan kegiatan mahasiswa. “Dalam empat tahun terakhir ini kita sudah mengantisipasinya. Misalnya, dalam setiap penerimaan mahasiswa baru, kita undang BNPT untuk menyampaikan ke dosen dan mahasiswa seperti apa radikalisme itu. Ciri-cirinya seperti apa,” ujar Ishaq, Selasa (5/6).
Selain itu, Unhas juga menerapkan larangan paham radikalisme ini masuk di kalangan mahasiswa baru. Caranya, dengan menggelar kegiatan yang berbau islami agar doktrin radikalisme ini tidak mempengaruhi pola pikir mahasiswa.
“Setiap mahasiswa yang baru masuk, kita adakan 16 pertemuan dengan memberi materi soal karakter. Selanjutnya intensif melakukan kegiatan keagaman keislaman. Setiap sebulan dua kali ada gerakan Unhas mengaji,” ucapnya.
Kebijakan rektor juga selalu ditekankan ke setiap fakultas untuk bersikap waspada terhadap paham tersebut. Dibentuk tim untuk mengawasi segala tindakan dan kegiatan mahasiswa yang bisa menjurus ke paham yang dinilai membahayakan.
“Ada memang kita instruksikan agar semua elemen bersikap mawas diri. Kalau ada kita lihat yang mencurigakan, itu biasanya ditindaklanjuti bagian kemahasiswaan,” terangnya.
Sementara Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UIN Alauddin Makassar Prof Siti Aisyah, menuturkan ada dua poin penting yang dilakukan UIN Alauddin Makassar untuk mencegah paham radikalisme masuk dalam lingkup kampus.
“Kalau kita UIN memastikan seluruh lembaga kemahasiswaan jangan ada terkontaminasi paham radikalisme. Itu nomor dua. Nomor satu, kita memastikan bahwa mata kuliah dan kajian itu pemahaman Islam moderat,” jelasnya, kemarin.
UIN Alauddin Makassar, menurut Prof Siti Aisyah, hanya menekankan dua pemahaman dalam lingkungan kampus, yaitu moderat dan pluralisme. Sehingga tidak ada ruang bagi paham radikalisme.
Prof Aisyah juga intens memantau pergerakan dan kegiatan mahasiswa yang diluar dari kegaiatan kampus. “Saya selalu melakukan sidak dan memonitor di mana saja ada kegiatan mahasiswa. Bahkan saya minta kepada mahasiswa, kalau ada kegiatan yang terindikasi menyimpang, videokan saja. Nanti saya yang tindaki,” tandasnya. (mat-ita/rus)

Baca Juga :  Berita Kota Makassar | Tiga Sekolah Jadi Sasaran Proper Gadis Dalduk

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar