Berita Kota Makassar | Sahur dari Makanan Pemberian Orang

Posted on

KETERBATASAN ekonomi tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih pahala puasa. Seperti yang dilakoni Iin.

Laporan: Juni Sewang

USIANYA 31 tahun. Berasal dari Kabupaten Jeneponto. Di Makassar, ia menjalani hidup dari memulung. Lima orang anaknya yang masih kecil setia menyertai ketika ia bekerja.
Suami Iin hanyalah seorang buruh bangunan lepas. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mengumpulkan barang bekas menjadi pilihan.
Saat memulung, Iin membawa serta anak-anaknya. Tujuannya agar bisa membantu. Ada juga yang menjaga adiknya.
Si sulung biasanya mengumpulkan barang bekas ketika Iin tengah menyusui anak bungsunya yang masih balita. Rasa takut terhadap penyakit seakan sudah tak ada lagi. Iin bersama anaknya turun langsung ke dalam kontainer yang penuh sampah serta bau menyengat.
Apakah tidak khawatir akan terserang penyakit? Iin hanya terdiam lalu tersenyum. ”Kalau penyakit gatal-hatal itu sudah biasa,” ujarnya enteng.
Di Makassar, Iin dan keluarganya tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka kini menempati sebuah rumah kosong yang berada di kompleks perumahan dan belum dihuni oleh pemiliknya.
”Kalau sekrang saya tinggal di Jalan Suling kompleks Perumnas Antang. Di situ masih ada beberapa rumah kosong. Tidak bisaka kontrak rumh kodong. Jadi cari-cari rumah kosongja untuk ditinggali. Kalau adami yang punya rumah mau tempati, terpaksa pindahki lagi cari rumah kosong,” tuturnya.
Untuk makan sehari-hari, dirinya terkadang berharap dari hasil memulung barang barang plastik dijualnya kepada pengepul. Dalam dua minggu Iin baru bisa menimbang hasil memulungnya.
Selama bulan suci ramadan, Iin dan anaknya yang berpuasa terkadang berbuka ketika sedang memulung. Untuk santapan sahur, Iin terkadang memasak dari hasil memulung.
Tidak jarang Iin mendapat beras dari dalam konteiner sampah. Sering pula ada pengguna jalan yang memberinya makanan untuk berbuka.
”Biasa dua minggu baru kutimbang. Ada biasa mobil patimbang-timbang yang datang. Paling banyak kudapat Rp100 ribu. Kalau dapatki bapaknya uang dari tukang batu, bersyukurki. Ada tong biasa kudapat beras di kontainer sampah. Ada orang biasa buang. Itu saya biasa masak. Pas jam buka puasa, biasa juga ada orang lewat dan kasika makanan,” terangnya.
Dalam sehari, ada tiga kali Iin keluar untuk memulung. Masing-masing pagi, siang dan sore hingga malam. Lebih banyak buka puasanya di luar rumah.
”Kalau untuk sahur, biasa saya bawa pulang itu makanan yang biasa dikasikan orang lewat. Karena kalau tetangga yang mau kasiki, tidak adapi tetanggaku. Masih blok kosong saya tinggali. Kalau tidak ada dimakan diam-diam maki saja. Mau diapa, sudah begitumi keadaanta kodong,” ujarnya. (*/rus)

Baca Juga :  Penumpang arus balik di Terminal Simbuang melonjak

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar