Berita Kota Makassar | Sebungkus Mi Instan untuk Sahur Bersama Cucu

Posted on

JIKA ada yang melihat seorang ibu-ibu berjualan buku keagamaan di sekitaran Jalan Pengayoman, tak ada salahnya untuk membeli bila memiliki sedikit uang. Sebab, ia mencoba mengais rezeki dengan cara halal. Pantang baginya untuk mengemis.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BIASANYA, ibu paruh baya itu tiba-tiba datang saat berkunjung di Toko Bintang atau Toko Alaska. Di antara mereka, ada seorang ibu yang menggantungkan nafkahnya dari hasil jualannya. Namanya Acce.
Siang itu BKM bertemu dengannya di depan toko penjual roti.
Ia terduduk di halaman parkir toko itu yang tampak sangat kotor. Dirinya terlihat begitu lelah. Tampak tak jauh dari dirinya, cucunya tertidur dengan pulas.
Saat itu, pendapatan yang dihasilkannya baru Rp15 ribu. Baru satu buku yang terjual.
Acce menjual berbagai buku keagamaan, seperti buku tuntunan salat, buku zikir, sampai iqra. Semua ia jajaka demi menghidupi cucunya yang tinggal bersamanya. Walaupun sedang berpuasa sekalipun, ia tetap berjuang.
Acce tinggal di Jalan Andi Tonro, Makassar. Tiap harinya ia pergi ke Jalan Pengayoman dengan menumpang becak motor (bentor). Karena tahu mesti punya uang untuk membayar bentornya, makanya harus ada bukunya yang laku terjual dalam sehari.
Ia tak memiliki rumah sendiri. Selama ini ia hanya tinggal di kamar kos ukuran 2×3 bersama cucunya. Tiap bulannya ia pun harus membayar sewa sebesar Rp200 ribu.
Kos-kosannya sangatlah sederhana. Dindingnya terbuat dari dinding beton setengah. Setengahnya lagi hanya terbuat dari tripleks.
Acce hanya tinggal bersama cucunya. Suaminya pergi merantau sejak kurang lebih empat tahun silam. Acce kurang mengetahui suaminya merantau ke mana. Yang pasti, sejak pertama kali pergi, suaminya tak pernah kembali lagi.
Dua anaknya juga pergi merantau ke Papua. Telah beberapa tahun juga tak pernah kembali. Tak pernah pula memberi kabar. Anak dari anaknya (cucunya) inilah yang dihidupi oleh Acce sekarang.
“Suamiku, anakku, pergi nda tahu ke mana. Anakku itu ke Papua kayaknya. Pernahji nakirim uang untuk ini cucuku. Tapi sejak pergi, baru berapa kaliji. Saya yang kasih makanki ini cucuku,” ucap Acce.
Saat ramadan seperti saat ini, Acce masih tetap menjajakan buku. Panas terik dan berpuasa pun menjadi tantangan tersendiri. Namun Acce mengatakan hal itu tak menjadi kendala. Tidak lupa ia pun tetap mengajarkan cucunya berpuasa.
Menu makanan sahur harusnya yang nikmat. Supaya nafsu makan saat subuh hari bertambah dan menjadi daya tahan sendiri untuk menjalani puasa. Namun hal itu tak pernah dirasakan Acce.
Biasanya, Acce hanya sahur dengan sebungkus mi instan. Itupun harus ia bagi berdua bersama cucunya. Menu makanan sahur seperti itu menjadi hal biasa baginya.
“Biasa kalau sahur miji kumakan. Belika satu bungkus kubagi dua sama cucuku. Tapi, Alhamdulillah kalau ada orang atau tetangga yang kasih makanan,” kata Acce.
Ia baru mulai menuju ke Jalan Pengayoman ketika waktu menunjukkan pukul 11.00 Wita. Sampai di lokasi, ia menjajakkan bukunya yang hanya seharga Rp15 ribu per eksemplar. Biasa kalau ada barang lain selain buku, ia juga menjual alas panci dan tissu.
Jika waktu maghrib sudah tiba, barulah ia pulang. Sebelum pulang, tak lupa biasa ia membelikan cucunya minuman dan kue untuk berbuka puasa. Itulah yang ia bagi bersama dirinya.
“Beli air gelas sama gorengan dulu untuk buka, baru pulang. Tapi biasa juga ada orang yang kasihki untuk buka puasa,” tutup Acce. (*/rus/b)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar