Berita Kota Makassar | Sepotong Ayam Dibagi Berlima untuk Sahur

Posted on

MENGAIS rezeki dari masjid. Begitulah Dg Gassing. Selama kurang lebih setahun ia menghidupi keluarganya dari hasil membersihkan masjid.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SEUSAI salat subuh, Dg Gassing mulai bergegas dari rumahnya ke Masjid Al-Abrar. Ia memulai tugasnya. Membersihkan masjid yang berada di Jalan Sultan Alauddin ini ketika orang-orang selesai menunaikan salat subuh.
Mulai dari halaman ia sapu. Tak ada sampah yang dibiarkan tergeletak. Sampai kemudian dilanjutkan lagi di dalam masjid. Ia sapu dan pel sampai lantai masjid bersih dan layak digunakan untuk salat oleh jamaah.
Pria asal Jeneponto ini bekerja bukan hanya di subuh hari. Ia juga akan kembali lagi membersihkan masjid setelah jamaah menyelesaikan salat tarawih. Hal itu rutin dilakukannya demi mendapatkan sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya serta keluarga.
“Ya, inimi kerjaku. Tidak adami lagi yang bisa saya kerjakan. Alhamdulillah, bersyukurja bisa dapat gaji dari membersihkan masjid,” tuturnya.
Oleh pihak masjid, Dg Gassing digaji sebesar Rp500 ribu per bulannya. Angka itu, baginya telah cukup untuk mengontrak kamar dan biaya makan untuk dirinya, istri, dua anak, serta seorang cucunya.
Dg Gassing tinggal di Jalan Bontoduri bersama istrinya bernama Dg Ngai. Di sepetak kamar berukuran 2×4 itu, ikut tinggal pula dua anaknya dan seorang cucunya. Mereka berlima tidur dengan alas seadanya.
Dg Gassing sebenarnya memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya telah menikah dan sekarang bekerja sebagai supir truk. Anak dari anaknya (cucunya) inilah yang kini tinggal bersama dengannya.
Saat ramadan seperti sekarang, berbuka puasa mungkin tak menjadi kendala baginya. Setiap hari di masjid tempatnya bekerja, menyediakan buka bersama bagi masyarakat. Tak lupa Dg Gassing membawa keluarganya untuk berbuka di masjid tersebut.
Namun kala sahur tiba, ia barulah memikirkan makanannya sendiri. Dengan pendapatan seadanya, ia senantiasa terus berusaha membahagiakan keluarganya. Nasi dan sayur tetap menjadi menu andalannya.
Jika sesekali memiliki kelebihan rezeki, dirinya membeli ikan untuk bisa disantap. Kadang juga ia membeli sepotong ayam bakar yang dijual dekat tempat tinggalnya.
Dengan harga Rp9.000 per potongnya, ia biasa membelinya hanya sepotong. Sepotong ayam itulah yang ia bagi berlima dengan anggota keluarganya.
“Biasa belika ayam itu di depan, Rp9.000 harganya. Biasa saya beli satu saja. Itumi yang saya bagi berlima. Itumi juga yang saya pakai sahur,” ucapnya.
Meski begitu, Dg Gassing tetap terlihat bahagia. Saat siang hari ia juga biasa berada di masjid sekadar membersihkan ringan. Sama seperti saat BKM mengunjunginya siang itu.
Walaupun dalam keadaan puasa di bawah terik matahari yang cukup menyengat, dirinya masih bisa bercengkrama dengan istri dan jamaah masjid.
Dg Gassing mengaku sangat jarang dirinya pulang ke kampung halamannya. Saat lebaran tiba, ia biasanya tetap harus bekerja di masjid. Hal ini membuatnya rela berkoban untuk tidak pulang ke Jeneponto. (*/rus/b)

Baca Juga :  IPI rilis survei Pilkada Gubernur Sulsel

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar