Berita Kota Makassar | Setia Melayani Jamaah Buka Puasa dan Sahur

Posted on

BULAN ramadan membawa arti tersendiri bagi Muhammad Buharto. Di momen ini ia bisa lebih melipatgandakan amal ibadahnya.

Laporan: Ardhita Anggraeni Nur

DI Masjid Nurul Sabri Kompleks Perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Blok A, Makassar. Di sinilah Muhammad Buharto tinggal. Menjadi marbot dan takmir masjid adalah rutinitas kesehariannya. Pekerjaan itu dilakoninya disamping sebagai seorang mahasiswa.
Menjejak tahun sudah ia bekerja sebagai marbot masjid. Dimulai kala dirinya memutuskan merantau dari kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
”Saya datang ke Makassar ini dengan modal nekat. Awalnya tidak tahu mau ke mana dan mau kerja apa. Tujuan awal saya mau cari kerja dan kuliah di sini,” tuturnya memulai pembicaraan.
Sesampainya di Makassar, ia tak punya tempat untuk bernaung. Pun sanak keluarga. Jadilan Buharto tidur di masjid. Diapun akhirnya ditawari untuk menjadi marbot.
Buharto sudah ditinggal kedua orang tuanya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagai anak sulung, ia harus mampu menghidupi tiga orang saudaranya yang kini berada di Pulau Labuanbajo.
Anak yatim piatu ini mendapatkan berkah semenjak menginjakkan kaki di Makassar. Kalau itu bertepatan dengan bulan ramadan.
“Tujuan awalnya memang mau cari kerja dan kuliah. Makanya saya terima pekerjaan ini, sekalian bisa mendapatkan pahala bisa membersihkan rumah Allah. Tidak lama kemudian saya dinyatakan lulus di Unhas,” terangnya.
Sembari menjalankan ibadah puasa, keseharian Buharto diisi bekerja sebagai penjaga masjid dan kuliah. Untuk ke kampus, ia menggunakan sepeda. Jarak BTP-Unhas yang tak terlalu jauh memungkinkannya untuk menikmati transportasi sepeda.
Terkadang, tiap waktu salat yang tidak berbenturan dengan jadwal kuliah, dia menyempatkan diri kembali ke masjid untuk melaksanakan tugas-tugasnya selaku marbot.
Selama ramadan, diakui bahwa pekerjaannya bertambah. Jika sebelumnya ia hanya bertugas membersihkan masjid dan mengumandangkan adzan untuk salat lima waktu, kini Buharto harus berada di masjid guna melayani jamaah yang ingin berbuka serta sahur.
Pada saat bersamaan, Buharto juga punya banyak kegiatan di kampus. Dirinya pun harus pintar-pintar membagi waktu. Tiap sore dan malam hari dia selalu standby di masjid.
Selepas ashar, ia membersihkan masjid. Kemudian bersiap menjadi pelayan bagi jamaah yang hendak berbuka puasa di masjid. Menjelang tarawih, Buharto mendapat tugas sebagai protokol.
Keikhlasan Buharto dalam bekerja berbuah hikmah. Ia mendapatkan beasiswa. Dihadiahi sebuah sepeda gunung serta uang saku selama satu semester.
Di kemudian hari, ia kemudian menjual sepedanya. Hasil penjualannya dipakai untuk membeli sepeda motor.
Selain sebagai marbot, Buharto juga mengajar privat bahasa Inggris. ”Makin banyak anak-anak yang privat, dibutuhkan kendaraan untuk mendukung mobilitas. Sepeda itu saya jual. Hasil penjualannya saya pakai untuk uang muka cicilan motor. Banyak pihak yang begitu baik hati dan membantu kuliah saya,” ujarnya.
Ia tak mempermasalahkan berapa gaji yang diperolehnya sebagai penjaga masjid. Dari jumlah itu, Buharto selalu menyisihkan sebagian gajinya setiap tahun untuk membayar zakat. Juga mengirimkan uang untuk saudara-saudaranya di kampung.
”Menjadi takmir masjid adalah menjadi pelayan Tuhan. Pelayan bagi sesama melatih meruntuhkan ego, mendisplinkan diri, dan menjadi manfaat bagi sesama,” kuncinya. (*/rus)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar