Berita Kota Makassar | Setor Rp250 Ribu, Seragam Olahraga tak Dibagikan

Posted on

MAKASSAR, BKM — Orang tua murid di SD Inpres Cilallang, Kota Makassar dilanda keresahan. Terutama yang anaknya duduk di bangku kelas 1A dan 1B.
Penyebabnya, sebanyak 58 murid pada dua kelas tersebut hingga saat ini belum juga mendapat pembagian baju olahraga yang telah dijanjikan oleh kepala sekolah. Padahal, mereka sudah menyetorkan uang Rp250 ribu.
Salah satu orang tua murid mengungkap hal itu kepada BKM, Selasa (5/6). Ia menjelaskan, pembayaran iuran tersebut ditetapkan oleh pihak sekolah sejak awal tahun ajaran baru 2017 lalu. Uang tersebut untuk pengadaan baju batik, seragam olahraga serta rompi. Namun sampai sekarang, seragam olahraga tak kunjung dibagikan.
Disebutkan olehnya, seluruh murid kelas I telah membayar iuran tersebut. ”Kita semua sudah membayar Rp250 ribu per orang. Kepala sekolah yang ditanya soal seragam olahraga, alasannya sudah dipesan. Itu terus dibilang berkali-kali,” cetus orang tua yang minta namanya diinisialkan dengan M.
Sebagai orang tua murid, ia sangat menyayangkan permasalahan dalam pengurusan seragam di sekolah ini. Sebab di sekolah lain, urusan seragamnya telah rampung dan telah dipakai oleh muridnya untuk mengikuti proses belajar mengajar.
”Hanya di sekolah ini saja baju seragamnya belum selesai sampai sekarang. Kita sudah capekmi menunggu. Harapannya, mudah-mudahan bisa cepat dibagi itu baju olahraga,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Selasa (5/6), Hj Hasniah selaku kepala SD Inpres Cilallang beralasan, dana yang terkumpul dari iuran orang tua terbatas. Kondisi inilah yang menghambat sehingga seragam sulit dirampungkan seluruhnya.
“Seragam yang kita janjikan kan ada batik, rompi, sama baju olahraga. Batik sama rompi sudah selesaimi. Tinggal baju olahraganya. Kita kerjakan sedikit demi sedikit,” katanya.
Hasniah pun menjanjikan akan segera menyelesaikannya. Ia menargetkan semuanya akan selesai seusai lebaran Idul Fitri tahun ini.
Dimintai tanggapannya tentang hal ini, Kepala Kantor Ombudsman RI Sulsel Subhan Djoer sangat menyayangkanya. ”Wah… diapakan itu dananya. Siapa yang harus bertanggung jawab? Orang tua mesti melaporkannya ke Disdik Kota, supaya bisa ditelusuri kemana dana yang disetor untuk pembelian seragam itu,” kata Subhan, kemarin.
Menurutnya, sangat tidak mask akal jika dalam waktu hampir setahun, seragam murid tak juga selesai. ”Ini salah satu bukti bahwa pejabat Disdik sudah harus membuka mata dan pikiran. Jangan lagi membiarkan sekolah memaksakan pembelian seragam saat anak-anak baru masuk sekolah. Biarkan mereka membeli sendiri diluar sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan,” cetus Subhan.
Dia juga meminta pejabat untuk tidak lagi merekomendasikan pengelola pakaian seragam untuk masuk ke sekolah menjual berbagai perlengkapan bermutu rendah dengan harga sangat tinggi. Tidak boleh lagi ada paksaan. Juka tidak boleh ada oknum Disdik yang mendrop barang ke koperasi sekolah dan meminta kepsek untuk memaksakan muridnya yang lulus untuk membeli.
”Orang tua tidak harus membeli barang koperasi yang mahal dan bermutu rendah. Apabila ada paksaan segera lapor ke Ombudsman, pasti kami usut dan namanya dirahasiakan,” tandas Subhan. (nug-jun/rus)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar