Berita Kota Makassar | Terbiasa Menahan Lapar di Luar Bulan Ramadan

Posted on

HIDUP di perantauan cukup berat. Apalagi jika tidak punya pekerjan tetap. Semua peluang, yang penting halal, akan dilakukan. Seperti yang dilakukan Supri.

Laporan: Rahmawati Amri

LELAKI berusia 38 tahun itu adalah perantau asal Bandung. Ia memutuskan merantau ke Makassar untuk memperbaiki hidup.
Untuk menyambung hidup di Kota Daeng, Supri memilih menjual aneka barang yang dibawa-bawa ke sana ke mari dalam tas besar.
Dengan menggunakan motor bututnya, di manapun lokasi orang banyak berlalulalang dan ramai, Supri menggelar dagangannya. Kadang di emperan masjid, atau pun di tempat yang ada hajatan.
Dagangan yang dibawa pun aneka ragam. Terutama yang berhubungan dengan aneka peralatan elektronik ringan hingga suku cadang gawai. Mulai dari charge HP, kabel-kabel listrik, senter, dan masih banyak lagi.
Khusus pada hari Jumat, Supri memilih berjualan di Masjid Al Markaz Al Islami. Sebab di sana banyak orang yang datang.
Karena memiliki modal yang terbatas, Supri kesulitan untuk mengembangkan usahanya. Padahal dia bermimpi suatu saat kelak bisa membuka toko sendiri.
Ternyata, hidup di Makassar yang sudah menjadi Kota Metropolitan dinilainya cukup berat. Apalagi untuk menghidupinya bersama istri dan tiga anak yang sementara sekolah. Apalagi, penghasilannya tiap hari tidak menentu.
“Kadang dapat Rp50 ribu, atau Rp 30 ribu. Bahkan kalau sepi tidak ada barang yang terjual,” terangnya.
Untuk membantu menutupi keperluan rumah tangga, sang istri pun turun tangan ikut mencari uang agar dapur tetap bisa mengepul.
Yah, istrinya membantu orang berjualan di kantin salah satu sekolah menengah pertama. Namun sayang, selama ramadan kantin tempat istrinya bekerja tutup.
Bulan ramadan seperti saat ini, kendati wajib berpuasa, Supri tetap gigih memanggul tas besarnya demi mengais rezeki halal. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Tidak kerja, berarti tak ada uang yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk belanja keluarganya.
Baginya, puasa merupakan ibadah wajib yang sudah tidak berat untuk dilaksanakan. Karena di luar bulan ramadan pun, ketika jualannya seret, dia harus menahan lapar untuk mengisi perut. Lebih baik penghasilan yang diperoleh dibawa pulang ke rumah. Namun terkadang pula dia dibekali makanan dari rumah.
Dalam sehari, kadang dua hingga tiga tempat didatangi. Di atas tikar lusuh, dia menggelar dagangannya. Namun, jika hujan turun, terpaksa seluruh barang harus dikumpul dan dimasukkan ke dalam tas besarnya agar tidak rusak dan bisa dijual kembali.
Suka duka yang dirasakan sudah biasa. Baginya, hidup adalah perjuangan dan melatih kesabaran. Sabar terhadap seluruh ujian yang datang. Termasuk dalam bulan ramadan dan menjelang lebaran Idul Fitri. Di mana kebutuhan hidup semakin tinggi.
Anak-anaknya butuh baju lebaran dan sebagainya. Untuk pulang mudik ke kampung halaman pun kadang hanya sebatas mimpi. Kepada keluarganya, lelaki pendiam itu selalu mengajarkan kesederhanaan. Dia percaya, Allah selalu sayang pada hamba-hambanya yang selalu mau berusaha. (*/rus)

Baca Juga :  Petugas Amankan Pelaku Pencurian di Ramadhan Expo Bone

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar