Berita Kota Makassar | Terbiasa Sahur dengan Sambal dan Nasi

Posted on

LELAHNYA mengemudi becak motor (bentor) di siang hari kala berpuasa, telah menjadi keharusannya. Nafkah yang halal ia perjuangkan di bulan suci ramadan dengan harapan amal berkah. Inilah keseharian Dg La’bang.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

KAUM duafa di Kota Makassar masih teramat banyak. Ketimpangan ekonomi begitu sangat terasa tatkala mengunjungi pemukiman kumuh di beberapa sudut kota.
Sebagian dari mereka adalah para pendatang. Bertahun-tahun hidup dalam kemiskinan. Di kampung halamannya tak memiliki pekerjaan. Mau tak mau mereka harus hijrah ke Makassar. Kota ini dianggap sedikit menjanjikan pekerjaan.
Dg La’bang adalah tukang bentor yang berasal dari Jeneponto. Usianya telah menginjak 60 tahun. Selain menjadi tukang bentor, ia juga terkadang menjadi juru parkir di sebuah minimarket yang ada di Jalan Manuruki, Makassar.
Dg La’bang bermukim di Jalan Malengkeri luar. Ia tinggal bersama istrinya bernama Dg Siang. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak. Namun yang kini tinggal bersamanya tinggal satu orang saja.
Empat anaknya yang lain ada di Jeneponto. Ada yang jadi buruh bangunan. Ada juga yang menjadi tukang bentor sama seperti dirinya. Karena anaknya tak pernah mendapat pendidikan semestinya. Sejak dulu hidunya susah, tak mampu membiayai biaya sekolah anak-anaknya.
Rumahnya ia bangun sendiri. Dengan bermodal beberapa kayu bekas dari kampungnya di Jeneponto dan beberapa seng bekas, jadilah tempat untuk bernaung.
Sebelum menjadi tukang bentor, dulunya ia adalah seorang tukang becak. Namun beberapa tahun kemudian ia beralih ke bentor karena faktor tenaganya yang tak sanggup lagi mengayuh becak.
Bentor yang dipakainya pun bukan miliknya pribadi. Ia menyewanya. Hasilnya dibagi dengan si empunya bentor.
Selain menjadi tukang bentor, terkadang ia juga menjaga parkiran minimarket. “Kalau tukang parkir di sini sebenarnya ada. Kalau lagi dia tidak ada, saya yang gantikan. Lumayan, karena orang yang pakai bentor sekarang juga sudah berkurangmi,” tuturnya.
Istrinya tak memiliki pekerjaan. Karenanya, Dg La’bang rela bekerja apapun di usinya yang telah tergolong tua ini. Semua anaknya juga hidup dalam kondisi sulit, sehingga mereka tak bisa banyak membantu perekonomian keluarga.
Penghasilannya tak banyak. Kadang ia hanya mendapatkan uang Rp20 ribu perhari. Itupun ia akan potong lagi untuk membeli bensin bentornya. Sisanya inilah yang biasa ia jadikan modal untuk sahur dan berbuka puasa dengan istri dan anaknya.
Sahurnya tak menentu. Kadang ia makan dengan ikan. Biasa pula hanya dengan sambal dan nasi. Terkadang juga makan enak, kalau sedang ada orang yang memberinya makanan. Jika sedang tak ada bantuan, makanannya benar-benar hanya seadanya.
Berbuka puasa pun juga menjadi hal yang prihatin baginya. Ia sangat bersyukur ketika sedang di jalan, ada orang yang memberikannya makanan. Tentu makanan itu tak lupa ia bawa pulang untuk dibaginya bersama anak dan istrinya.
Saat tak ada yang memberi makanan, ia juga tetap pulang. Dengan membeli beberapa potong roti, ia makan bersama dengan keluarganya. Hanya roti dan air putih saja yang juga menjadi kebiasaan makanan berbukanya.
Baginya, selama ini ia sudah cukup bersyukur karena masih bisa bersama dengan keluarganya. Namun tak dipungkiri juga jika Dg La’bang tetap mengharapkan bantuan dari siapapun, apalagi dari pemerintah.
“Kadang itu saya juga mau belikan baju baru untuk istri sama anakku kalau lebaran, tapi selalu tidak ada uang. Mudah-mudahan nanti bisa belikan,” imbuh Dg La’bang. (*/rus/b)

Baca Juga :  Berita Kota Makassar | Pemprov Kekurangan Rp21 Miliar Bayar THR

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar