Berita Kota Makassar | ”Yang penting Adaji Garam Dimakan, Bisami Puasa”

Posted on

MALANG nian nasib Sitti Aminah. Selain mesti melawan bergelut dengan kelainan kulit yang dideritanya, ia juga harus merawat anak angkatnya yang mengalami kecacatan. Tambah miris lagi, karena ia hidup dalam kemiskinan.

LAPORAN: NUGROHO NAFIKA KASSA

LORONG 12 Jalan Abdullan Daeng Sirua benar-benar terlihat amat kumuh. Rumah-rumah hanya terbuat dari kayu-kayu bekas dan sisa sisa seng. Apalagi rumah milik Aminah yang berdiri di atas rawa-rawa dan terlihat tak terurus.
Ramadan menjadi kesyukuran baginya. Setidaknya ia bisa makan dengan cuma-cuma di masjid yang menyediakan buka bersama. Selain itu, saat bulan puasa tiba, banyak pula yang memberikannya makanan untuk membatalkan puasa saat maghrib tiba.
Aminah adalah seorang pemulung. Ia istri dari seorang tukang bentor bernama Dg Makka. Baru lima tahun lalu ia hijrah ke Makassar, karena tak memiiki pekerjaan selama berada di kampungnya Jeneponto.
Aminah biasa memulung di pagi hari hingga siang. Kemudian dilanjutkan lagi ketika sore hari tiba hingga malam pukul 22.00 Wita. Keseharian ini yang terus ia jalani.
Anak angkat yang dipelihara Aminah sebenarnya kemenakannya sendiri. Karena kecacatannya, orang tua meninggalkan buah hatinya itu. Aminah pun berinisiatif marawatnya hingga kini berusia 18 tahun.
Ia mengalami kelainan pada beberapa tubuhnya. Kepalanya dulu tampak membesar dan matanya tak bisa terbuka. Namun Aminah mengatakan jika itu sudah sedikit bisa diatasi dengan menggunakan selang yang dialirkan dalam tubuhnya.
“Ini dalam badannya, dari kepala sampai di pinggang ada selang di dalamnya. Kalau tidak begitu, bisa-bisa mati kasihan,” terang Aminah.
Selain itu, kakinya juga tak sama panjang. Kaki kirinya lebih panjang beberapa centimeter, sehingga saat berjalan tampak pincang. Aminah juga tak mampu membiayai sekolahnya. Dulu, ia hanya mampu menyekolahkannya di kelas 1 SD. Setelah itu putus sekolah hingga kini.
Aminah sendiri mengalami kelainan kulit sejak lama. Namun dirinya telah dinyatakan sembuh. Hanya saja bekasnya hingga kini masih kelihatan.
Penghasilan Aminah dan suaminya amatlah kecil. Seharinya hanya mendapatkan antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Untuk makan sehari-hari saja, amatlah sulit. Bila saat sahur tiba, Aminah hanya menyediakan lauk seadanya.
“Syukur sekalimi itu kalau ada ikan. Kita yang penting adaji garam, makanmaki. Biasa juga tomat saja dipakai. Yang penting bisa puasa,” ujar Aminah.
Wanita 50 tahun ini merasa saat ramadan, dirinya mencapat berkah yang cukup dari segi makanan. Apalagi saat berbuka. Jika bukan mendapatkan dari beberapa masjid yang disinggahi, ia biasa diberikan makan oleh orang di pinggir jalan. Makanan itulah yang biasa ia bawa pulang untuk makan bersama dengan keluarganya.
Mau tidak mau, Aminah mengatakan harus terus menyambung hidupnya di sini. Ia tak tahu lagi apa yang bisa ia kerjakan. Sedangkan ibunya sendiri kini berada di Jeneponto dalam keadaan buta.
“Siapa lagi kalau bukan saya yang cari uang. Mamaku buta di Jeneponto. Tidak tahu apa yang mau saya kerja di sana. Jadi beginimi saja,” katanya pasrah. (*/rus/b)

Baca Juga :  Berita Kota Makassar | Puluhan Pemuda Sabutung Baru Terlibat Adu Jotos

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar