Bos Inalum Akui Pengambilalihan Saham Freeport Temui Jalan Terjal

Posted on

JawaPos.com – Sebagai perusahaan pengelola tambang emas terbesar kedua di dunia, sulit bagi Indonesia untuk mengambilalih saham PT Freeport Indonesia. Hal itu diakui oleh Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium Budi Gunadi Sadikin. Inalum merupakan induk holding BUMN industri pertambangan yang dibentuk untuk ‘merebut’ Freeport dari Amerika Serikat.

Budi menuturkan setidaknya ada tiga hal yang membuatnya kesulitan untuk mengakuisisi saham Freeport menjadi 51 persen sesuai dengan regulasi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Pertama, nilai transaksi yang besar.

Menurutnya, transaksi pengambilalihan saham Freeport merupakan transaksi unik. Pasalnya, transaksi belum dilakukan kendati komitmen pendanaan sudah didapatkan dari konsorsium beberapa bank BUMN dan swasta.

“[Lazimnya] transaksi dulu terjadi [baru pendanaan], kalau sekarang komitmen pendanaan sudah diperoleh tinggal tunggu transaksi terjadi,” ujar Budi dalam acara Buka Puasa Bersama di Graha CIMB Niaga, Senin (4/6).

Baca Juga :  Wow! Tol Bocimi Sepanjang 15,3 Km Dapat Dilalui Tanpa Tarif

Kedua, transaksi tersebut menjadi sulit lantaran pemerintah melalui Inalum harus menuntaskan perjanjian jual beli 40 persen Participating Interest (PI) Rio Tinto di Freeport Indonesia. Dengan kata lain, Inalum harus terlebih dahulu membeli 40 persen hak partisipasi milik Rio Tinto tersebut bari dikonversikan menjadi kepemilikan saham PTFI dan digabungkan dari pembelian saham dari Freeport-McMoRan (FCX).

“Transaksi sulit ada tiga pihak PTFI dan Rio Tinto. Terkait dengan saham dan terkait PI, bagaimana konversi saham,” kata Budi.

Meski masalahnya tidak mudah, namun, Budi menyebut, poin penting yang dilakukan dalam proses akuisisi ini sudah besar. Dia mengaku ini merupakan kesepakatan tersulit sepanjang karirnya sebagai banker.

Baca Juga :  Alhamdulillah, 3 Pekan Puasa BI Belum Terima Laporan Uang Palsu

“Salah satu tersulit dari 25 tahun saya berkarir di Bank. Milestone beberapa minggu terakhir sudah cukup signifikan. Mudah mudahan aset terbesar milik bangsa Tambang Tembaga kedua dunia dan untuk emas terbesar di dunia,” jelasnya.

(uji/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar