‘Bumi Manusia’ Pramoedya Ananta Toer, Buku Favorit Hannah Al Rashid

Posted on

Hannah Al Rashid lahir dan besar di London. Bintang film ‘Jailangkung 2’ itu menceritakan masa remajanya yang terbilang gemar membaca dan jarang pacaran.

Belum lama ini, Hannah Al Rashid berbincang hangat dengan detikHOT seputar perjalanan karier serta cerita-cerita unik lainnya mengenai dirinya. Lahir dari pasangan Indonesia – Prancis, Ayah Hannah Al Rashid, Aidinal Hamzah Al Rashid merupakan guru pencak silat di Inggris dan dikenal sosok yang keras dalam mendidik anak-anaknya.

Baca juga: Lahir Di Dua Budaya, Hannah Al Rashid Cinta Kultur Indonesia

“Nggak-nggak gue masih di London waktu itu, gue itu besarnya di London sampai gue selesai kuliah itu di London,” paparnya santai.

Hannah Al Rashid saat pemotretan Celeb of The Month Foto: Asep Syaifullah

“Masa remaja gue apa yah mungkin bokap gue cukup strict ya. Jadi nggak pernah pacaran pokoknya selalu study dan saat gue umur 16 tahun itu gue ikut pencak silat dan sempat jadi atlet pencak silat. Jadi udah hidup gue itu pencak silat, kerja di toko, sekolah, udah gitu aja sempat jadi atlet gue itu jadi gitu di London,” tambahnya seru terbahak.

Hannah Al Rashid yang banyak menghabiskan masa remaja untuk belajar dan aktif di pencak silat itu mengaku suka dengan sastra Indonesia. Menurut bintang film ‘Critical Eleven’ sastra dan kebudayaan Indonesia membuatnya sangat tertarik.

Meskipun terlahir dari keluarga dua budaya dan besar di London, pemilik nama lengkap Hannah Aidinal Al Rashid menuntaskan pendidikannya di School of Oriental and Africans Studies bagian dari University of London.

“Itu gue bener-bener kaya waktu kuliah itu gue ambil jurusan gue itu suka banget sastra dan bahasa Indonesia dan development studies. Nama kampus gue itu unik banget, nama kampusnya itu School of Oriental and Africans Studies jadi bagian dari University of London,” kisahnya serius.

“Jadi pelajaran tentang Asians dan Africans di situ, kampusnya jadi di seluruh dunia dan Eropa kalau elu mau belajar tentang anything to do with Asians and Africans elu ke Solace. Itu singkatannya jadi waktu gue ke Solace itu udah merasa Indonesian banget, gue itu kayak wah ini tempat gue nih gue itu bener-bener fokus dan gue itu nggak pernah party di kampus,” tambahnya seru.

Hannah Al Rashid saat pemotretan Celeb of The Month Hannah Al Rashid saat pemotretan Celeb of The Month Foto: Asep Syaifullah

Hannah yang begitu mencintai akan kebudayaan serta sejarah Indonesia memang banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, ‘Bumi Manusia’ merupakan buku kegemaran perempuan kelahiran 32 tahun silam itu.

“Itu gue nggak pernah sama sekali, gue itu bener-bener di perpustakaan gue itu kayak baca Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis itu gue kayak senang banget ya. Maksudnya elu nggak bisa dapat itu even di Indonesia pun gue sempat kuliah di UGM, perpustakaan mereka itu sucks banget men!,” kisahnya seru.

Baca juga: Cerita Masa Kecil Hannah Al Rashid, Dari Tomboi Hingga Kerap Di Smackdown

“Banyak banget buku yang di kampus gue di London tapi di Indonesia itu gue nggak nemu jadi gue itu udah kayak apa yah, kayak nemu harta karun. Gue itu kerjaannya cuma duduk dan baca sastra Indonesia yang lainnya pada party nah gue liat buku Pramoedya Ananta Toer kayak aaakkhh,” pungkasnya seru.

Wardrobed by Ree Indonesia.
Aksesoris by House of Jealouxy.
Make up by Ifan Rivaldi.

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar