Curhat Mendag Enggar Saat Jadi Kambing Hitam Kebijakan Impor Pangan

Posted on

JawaPos.com – Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Perdagangan harus bisa menjaga stabilitas harga pangan dan kebutuhan pokok dalam negeri. Namun, Kemendag juga harus bisa menjaga neraca perdagangan yakni menjaga ekspor impor. 

Pemerintah punya tugas untuk meningkatkan ekspor yang memiliki andil terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan I-2018, ekspor punya kontribusi sebesar 21,3 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan kontribusi 20,5 persen.

Di sisi lain, Kemendag juga punya tanggung jawab untuk menjaga harga-harga kebutuhan pokok di pasar tetap terjaga. Dengan berkiblat pada hukum suplai dan demand, apabila terjadi over demand maka suplai akan tertekan. Atau sebaliknya, apabila suplai tertekan akibatnya harga ditingkat konsumen akan naik. Bagaimana cara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menghadapi situasi ini? 

Wawancara Mendag Enggartiasto Lukita dengan JawaPos.com (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Berikut petikan wawancaranya JawaPos.com di Kantor Kementerian Perdagangan, Kamis (12/7):

Kalau ada kebijakan impor utamanya bahan pangan, seringkali Kemendag jadi kambing hitam. Kalau Pak Enggar sendiri menanggapinya gimana?

Dalam ilmu perdagangan itu ada ekspor ada impor. Kalau mau ekspor saja bukan perdagangan namanya. Kalau kita hanya mau menerima dan tidak mau memberi itu namanya egois. Dalam skala kecil, apakah DKI Jakarta bisa hidup tanpa menerima arus barang dari provinsi lain. Enggak mungkin kan.

Kemudian kalau disebutnya impor bahan pokok, kalau memang barang itu tidak ada bagaimana? 

Keputusan itu kan berdasarkan rapat koordinasi dipimpin oleh Pak Menko, Pak Mentan yang punya tugas produksi, dan juga Dirut Bulog yang ditugasi. Kenaikan harga kan kadang karena framing berita di media. Kalau enggak ada barang yang naik harganya dicari terus sampai ada yang naik, kalau beras tidak naik daging tidak naik lalu dicari sampai ketemu jengkol yang naik baru diberitain.

Begitu juga dengan impor, kalau kita ambil positifnya urusan perut nomor satu dipertahankan. Misal saja, dari 5 orang yang gak setuju (impor) ada 100 orang yang sebetulnya setuju. Tapi itu (5 orang yang enggak setuju) yang jadi berita. 

Selama dua tahun di kabinet kerja, lebih sulit mengurus perdagangan dalam negeri atau luar negeri? 

Sama aja (sulitnya). Keduanya seimbang, karena ada tiga mandat yang disampaikan bapak Presiden. Pertama, bahan pokok dengan cara stabilkan harga dan jaga inflasi. Kedua adalah menjaga neraca perdagangan dan tingkatkan ekspor. Ketiga, pasar rakyat.

Disini penekannya adalah ekonomi yang berkeadilan. Dari sini saja, perdagangan luar negeri dan dalam negeri ambil peran yang seimbang. Kalau ekspor kita jeblok, maka ekonomi kita jeblok. 

Kalau orientasinya hanya perdagangan dalam negeri juga tidak bisa. Menteri itu enggak boleh visi misi. Yang boleh punya hanya presiden, sebagai menteri kita harus bisa menerjemahkan visi misi dari Pak Presiden.

Jadi dua-duanya sama sulitnya?

Tidak ada pekerjaan yang mudah memang. Tinggal bagaimana kita menikmati. Kan saya tidak kerja sendiri di Kementerian ini. Seluruh jajaran saya di Kementerian Perdagangan juga kerja. Bagaimana mereka tidak luar biasa kerja, kalau saya pulang jam satu malam mereka pulang jam setengah dua. Ada eselon I. Kalau eselon I jam setengah dua pulangnya. 

Soal Pelemahan rupiah, paling berdampak ke sektor mana saja pak?

Paling berdampak itu ekspor. Setiap nilai tukar itu baik apresiasi maupun depresiasi. Tahun 97 dan 98 yang disebut krisis itu di Jawa. Di Sulawesi tidak, karena apa mereka banyak melakukan ekspor. Ada ekspor coklat, dan segala macam. Sedangkan, di Jawa kita banyak impor. Ekspor kita bagus waktu itu, tapi impor kita bahan bakunya meningkat dan barang modalnya yang menjadi soal. 

Yang sekarang menjadi soal atau faktor lain yang mempengaruhi adalah sedang terjadi perlambatan dan juga kedua belah pihak saling menaikkan tarifnya antara Amerika Serikat dengan Kanada, Eropa dan sebagainya. Ini yang betul-betul harus kita sikapi, kalau RRT terbentur pasar kesana, maka dia harus mencari pasar baru. Salah satu yang berpotensi adalah Indonesia. Positifnya, Dengan dolar yang mahal maka barang itu jadi mahal kalau mau masuk. Ada variabelnya begitu banyak yang dianalisa. 

Dari sisi perdagangan, bagaimana pemerintah menyikapinya?

Kita tidak harus menanggapi. Karena situasi nilai tukar bukan karena fundamental ekonomi kita. Tapi karena kebijakan The Fed (Bank Sentral Amerika) suku bunga dinaikkan, yang mengakibatkan dolar kembali. Sebab ekonomi Amerika Serikat luar biasa peningkatannya. Kemiskinan turun, penganggurannya berkurang. Hanya defisit Amerika besar, maka terjadi penguatan dolar. Malaysia berbeda, karena mereka sudah antisipasi dari awal kita tidak mungkin sekarang sehingga kita harus lakukan penyesuaian dan kita libatkan stakeholder, yakni pengusaha. 

Kaitannya dengan bahan pakan yang impor itu bagaimana? Telur ayam misalnya, bukankah pakan yang digunakan mayoritas pakai jagung impor?

Yang komponen impor pasti naik, DOC naik diluar itu ada tingkat kematian yang cukup, ini ilmu pengantar ekonomi ada suplai dan demand. Harga itu naik karena suplai berkurang ditambah biaya pokok naik. Jadi ya kita mau apa kalau kondisi kayak gitu. Mau apa? Tinggal bagaimana bersama pengusaha tolong kurangi marginnya, peternak kecil jangan ditekan terus.

(uji/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar