Dari Kasus Via Vallen, Segera Sahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual

Posted on

JawaPos.com – Dugaan pelecehan seksual yang dialami pedangdut Via Vallen menyadarkan bahwa perempuan, tak terbatas publik figur, rentan mengalami hal tidak mengenakkan tersebut. Demikian dikatakan komisioner Komnas Perempuan, Magdalena Sitorus.

“Siapapun rentan ya (mengalami pelecehan seksual). Seolah-olah, kalau dia perempuan maka dia layak dilecehkan,” ungkap Magdalena saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (5/6).

Bahkan, lanjutnya, perempuan cenderung disalahkan atas pelecehan yang menimpa dirinya. Dikatakan, karena berpakaian terlalu terbuka atau karena keluar malam. Padahal, tegas Magdalena, perempuan bebas mengenakan apa saja karena memiliki hak atas tubuhnya.

Unggahan Via Vallen di Insta Story yang menyebut dirinya dilecehkan oleh pesepak bola terkenal. (Instagram/viavallen)

“Memang ada kesalahan paradigma berpikir. Gender base violance, seperti karena dia mengenakan pakaian seksi maka dikatakan mengundang terjadinya pelecehan,” ujarnya.

Oleh karena itu, ungkapnya, perlu pada pelurusan terhadap paradigma berpikir terhadap perempuan. Hal itulah yang terus digaungkan Komnas Perempuan. Termasuk, mendorong perempuan yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual untuk bicara.

“Kita membuat gerakan mari bicara, #maribicara. Itu bagian dari edukasi juga,” katanya.

Namun, Magdalena mengatakan, yang paling mendesak untuk didorong saat ini adalah segera disahkannya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Mengingat, KUHP tidak mengatur mengenai pelecehan seksual. Sebab, yang ada hanya pencabulan dan pemerkosaan.

Sedangkan, lanjutnya, pelaporan mengenai pelecehan seksual menggunakan pasal perbuatan tidak menyenangkan kerap dimentahkan oleh aparat penegak hukum. Dengan dalih minim bukti.

(yln/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar