Di balik kemudi kami berbakti

Posted on

        Semarang (Antaranews) – “Kerja keras tidak akan pernah tergantikan oleh apapun” demikian dikatakan Thomas Alva Edison, salah seorang penemu terbesar Amerika Serikat.

        Entah tahu atau tidak tentang kalimat yang pernah dicetuskan salah satu penemu terbesar Amerika Serikat itu, yang jelas Irsad sudah mempraktikkannya selama lebih dari 15 tahun.

        Irsad, kakek dari belasan cucu yang kini telah berusia 74 tahun, merupakan seorang pengemudi bus milih salah satu perusahaan pariwisata.

    Selama itu pula, dia selalu terlibat dalam kegiatan mengantar para pemudik ke kampung halamannya masing-masing menjelang Lebaran, entah itu sebagai sopir utama bus ataupun cadangan.

        “Jadi saya jarang kembali ke daerah asal saya, Yogyakarta. Sudah biasa,” ujar Irsad di sela pekerjaannya mengantarkan pemudik yang menjadi peserta mudik bersama gratis perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Jasa Raharja di Pantai Karnaval, Ancol, Sabtu (9/6).

        Bagi dirinya, pekerjaan merupakan tanggung jawab yang mesti dijalankan, apapun risikonya. Seperti, kata Thomas Alva Edison di atas, kerja keras untuk Irsad satu-satunya cara dirinya mencapai tujuan, yakni menghidupi keluarganya.

        Laki-laki asal Jakarta ini pun rela tidak seperti penumpang atau pemudik yang duduk nyaman di kursi bus sembari menunggu dengan tak sabar momentum menuntaskan rindu di pelukan hangat keluarga.

        Irsad selama bertahun-tahun melewatkan momentum mudik bersama seorang rekan sopir dan satu kru pembantu sopir (kernet) yang mendampinginya di dalam bus.

        Terkadang, timbul pula rasa iri di hati para pengendara bus ketika dari balik kemudi mereka melihat pemudik melepas tawa dan bahagia dengan keluarga.

        “Kalau dibilang ingin, ya, ingin pulang juga. Sudah tujuh kali Lebaran saya belum pulang kampung. Kalau mau kembali ya harus setelah Lebaran,” tutur pengendara bus lainnya, Heri.

        Sementara bagi Opik, seorang kru bus atau kernet, saat-saat Lebaran selalu melempar memorinya ke rumah, di mana istri dan seorang anaknya yang baru berumur tiga tahun, menunggu di rumahnya di Citayam, Depok, Jawa Barat.

        Opik baru bekerja di bus selama dua tahun setelah sebelumnya bekerja di tempat penyewaan peralatan tata suara. Namun, dia mengaku sudah mengetahui risiko itu ketika memilih beralih pekerjaan.

        “Tahun pertama bekerja saya masih bisa balik ke rumah. Tahun ini sepertinya tidak,” kata dia sambil bersiap mengantar pemudik ke Semarang, Jawa Tengah.

        Tidak bisa mudik, tidak dapat merasakan leganya saat di mana rasa kangen kepada keluarga besar tuntas pada Hari Lebaran, tak pula lantas membuat Irsad, Heri, dan Opik setengah hati dalam bertugas.

        Mereka tetap menjadikan keselamatan, kenyamaman, dan keamanan pemudik sebagai prioritas utama. Melihat pemudik sampai tujuan tanpa kekurangan sesuatu apapun menjadi kesenangan dan kepuasan bagi sanubari pribadi mereka.

         “Yang penting selamat sampai tujuan. Kami senang bisa mengantarkan pemudik ke kampung halamannya,” ujar Opik.

        

                         Apresiasi

   Para pemudik bukannya tidak memahami beratnya tanggung jawab seluruh awak bus di tengah beban tidak bisa pulang kampung saat masa Lebaran. Ada saja cara mereka untuk menyampaikan terima kasih.

        Contohnya seperti yang dilakukan peserta mudik gratis bersama PT Jasa Raharja (Persero) tujuan Semarang, Jawa Tengah.

        Bentuk penghargaan diberikan dalam rupa dana hasil urunan para pemudik. Mereka melakukannya dengan kompak meski belum kenal satu sama lain.

        “Ini sukarela dari kami membalas jasa pengemudi bus. Semoga semuanya selamat sampai tujuan,” ujar Nurmedyanto, pemudik yang menjadi penggagas apresiasi tersebut.

        Awalnya, Nurmedyanto berinisiatif mendatangi satu per satu pemudik di dalam bus, meminta persetujuan pemudik lain tentang pengumpulan apresiasi untuk tiga awak bus, yakni dua sopir dan satu kernet.

        Idenya kemudian disetujui penumpang lain yang akhirnya turut membantu proses tersebut.

        Meski demikian, Nurmedyanto menyebut, apa yang dilakukan dirinya dan para pemudik merupakan hal lumrah dalam budaya mudik bersama.

        “Itu pengalaman dari yang kemarin-kemarin,” kata pria yang bekerja di Kementerian BUMN itu.

        Selain itu, penghargaan juga dipersembahkan dalam bentuk lain. Penyelenggara mudik PT Jasa Raharja (Persero) menyediakan fasilitas kesehatan gratis bagi para pengendara bus. Salah satunya dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat, yang bekerja sama dengan RS Bhayangkara Setukpa.

        “Ini untuk mencegah gangguan kesehatan di perjalanan yang bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Kepala PT Jasa Raharja Perwakilan Sukabumi Abdulrachman Damanik.

        Pihak Jasa Raharja ingin setiap sopir yang mengemudikan angkutan mudik Lebaran dapat membawa penumpang dengan kondisi nyaman dan selamat sampai tujuan.

        Program mudik bersama gratis PT Jasa Raharja (Persero) pada 2018 merupakan bagian dari Program Mudik Bareng Guyub Rukun perusahaan-perusahaan BUMN.

        PT Jasa Raharja (Persero) memberangkatkan lebih dari 38 ribu pemudik pada 2018 dengan tujuan setidaknya 30 kota di beberapa provinsi, seperti Semarang, Jepara, Salatiga, Pekalongan, Tegal, Klaten, dan Surabaya.

        Para pemudik diberangkatkan dengan total 600 bus, delapan kereta api, dan dua kapal laut.

        Program Mudik Bareng BUMN Guyub Rukun demi mewujudkan komitmen BUMN Hadir Untuk Negeri mengalami peningkatan peserta mudik sekitar 65 persen dibandingkankan dengan tahun lalu.

        Pada 2018, tercatat 164. 412 pemudik diberangkatkan oleh 62 perusahaan BUMN. Pada 2017, program itu diikuti 99.576 peserta yang didukung 27 perusahaan BUMN.

        Program itu juga diarahkan untuk pemudik yang selama ini menggunakan kendaraan roda dua karena catatan angka kecelakaan selama mudik biasanya 70 persen didominasi oleh kendaraan roda dua.



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar