Diancam Pakai GSP, RI Bakal Kebanjiran Impor Produk Besutan Boeing? | JawaPos.com

Posted on

Jawapos.com – Bertolak ke Amerika Serikat, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan tim punya misi untuk menyelamatkan ekspor dari ancaman dihapuskannya fasilitas GSP. GSP merupakan kebijakan AS berupa pembebasan tarif bea masuk (nol persen) terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara penerima fasilitas tersebut.

Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang menyebabkan Negeri Paman Sam defisit. Sebelumnya, Mendag Enggar menyebut surplus neraca dagang Indonesia mencapai USD 14 miliar. Selain datang untuk melobi importir terkait GSP, Enggar juga bertemu dengan Vice President of International Government Relation Boeing, Mark Lippert.

Pertemuan keduanya membicarakan mengenai rencana peningkatan kerja sama strategis di bidang penerbangan. Mendag Enggar juga mengundang Boeing untuk lebih meningkatkan bisnis mereka di Indonesia agar saling menguntungkan kedua pihak.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

“Kami mengajak Boeing bukan hanya untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi agar dapat bersama-sama menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan,” ujar Enggar dalam keterangan resmi dari Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (24/7).

Menurut dia, banyak potensi kerja sama dengan Indonesia yang bisa digali misalnya pengembangan bahan bakar pesawat biofuel (bioavtur) berbasis sawit, suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO).

“Indonesia berpotensi menjadi ‘hub’ pelayananan MRO pesawat udara di kawasan ASEAN dan sekitarnya,” tuturnya.

Asal tahu saja, pada April 2017, Pemerintah AS meninjau ulang beberapa negara yang selama ini menjadi penerima skema GSP AS, termasuk Indonesia. Di 2017, produk Indonesia yang menggunakan skema GSP l bernilai USD 1,9 miliar. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara penerima GSP lainnya seperti India sebesar USD 5,6 miliar, Thailand USD 4,2 miliar, dan Brasil USD 2,5 miliar.

Produk-produk Indonesia yang diekspor ke AS dan masuk ke dalam komoditas penerima GSP antara lain ban karet, perlengkapan perkabelan kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, aluminium, sarung tangan, alat-alat musik, pengeras suara, keyboard, dan baterai.

(uji/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar