Eits… Jangan Sampai Karya Seni Jadi Background Foto

Posted on

Jakarta – Perilaku pengunjung yang sambangi pameran seni tak hanya disibukkan dengan selfie maupun wefie. Sebagian besar dari mereka senang menjadikan karya seni sebagai background atau latar belakang foto lalu mengupload ke akun media sosial.

Tingkah pengunjung seperti itu sangat disayangkan oleh beberapa pihak termasuk seniman. Seniman asal Yogyakarta Wedhar Riyadi yang menjadi commission artist di Art Jog 10 atau Art Jog 2017 sangat menyayangkan masih banyak pengunjung yang kurang mengapresiasi karya seni.

“Sebenarnya selfie atau wefie tidak dilarang juga ya, asal tidak menganggu karya. Tapi ada banyak elemen yang bisa kita dapat atau rasakan dari sebuah karya dan itu tidak bisa digantikan dengan mata kamera apalagi cuma sebagai background foto saja,” kata Wedhar ketika dihubungi detikHOT, Rabu (23/5/2018).

Menurutnya, pengunjung sudah seyogyanya menghargai dan mencoba memahami sebuah karya seni.

“Kita harus belajar juga untuk menghargai dan memahami sebuah karya, bagaimana pesan, informasi atau proses yang disampaikan melalui sebuah karya. Justru kalau saya ada di sebuah pameran adalah momen yang tepat untuk meluangkan waktu dengan memanjakan indera kita,” ujarnya.

Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Naufal Abshar. Seniman yang terkenal lewat seri lukisan ‘HAHA’ juga menyayangkan masih banyak pengunjung yang menjadikan karya seni sebagai background foto karena dapat menganggu estetikanya.

Eits… Jangan Sampai Karya Seni Jadi Background Foto Foto: Dwi Andayani

Fenomena selfie atau wefie di depan karya, menurut Naufal, baru ngetren di Indonesia belakangan ini saja. Sejalan dengan berkembangnya media sosial di ranah dunia maya.

Pengunjung museum dan galeri seni di luar negeri, tidak ada yang selfie apalagi dengan tema OOTD. “Mereka ada yang foto di depan karya tapi tidak selfies-tik apalagi dengan tema OOTD. Itu yang sangat sedih, apalagi kasus di MACAN sampai merusak karya. Bisa dibilang sangat tidak wajar sih, bisa menganggu estetika museum sendiri,” kata lulusan LASALLE College of the Arts dan Goldsmith University London.

Ditambah lagi dengan kehadiran para influencer yang datang ke museum dan galeri serta ingin followers-nya mengikuti. “Sebenarnya its okay, kalau masih dalam batas wajar. Kalau di luar batas apalagi merusak karya itu sudah tidak wajar. Di kita ini perlunya edukasi bagaimana mengapresiasi seni.”

Di akhir obrolan, Naufal menegaskan karya seni itu bukan sekadar untuk difoto lalu dijadikan background foto. “Seni itu untuk didiskusikan dan dicerna,” pungkasnya.

(tia/tia)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar