Ilmuwan Kembangkan Artificial Intelligence Perangi Pornografi | JawaPos.com

Posted on

JawaPos.com – Para ilmuwan tengah berusaha mengembangkan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan untuk mengatasi masalah konten pornografi. Caranya sedikit unik, AI yang dikembangkan akan dilatih untuk melakukan sensoring gambar porno dengan cara yang tidak biasa.

Nantinya gambar porno yang terdeteksi akan otomatis tersensor berkat kemampuan AI yang tengah dilatih. Uniknya, sensoring yang dilakukan misalnya pada gambar perempuan tanpa busana, gambar tersebut akan secara otomatis tertutupi bagian intimnya dengan sensor yang membentuk pola bikini atau baju renang.

Jadi dengan sensor berbasis AI itu gambar yang tadinya benar-benar tanpa busana menjadi seolah mengenakan pakaian renang dan tidak lagi menjadi gambar yang vulgar.

Nantinya gambar porno yang terdeteksi akan otomatis tersensor berkat kemampuan AI yang tengah dilatih (Posos de Anarquia)

Adapun penelitian ini dikembangkan oleh tim Peneliti dari Universitas Katolik Pontifikal Rio Grande do Sul, Brasil. Seperti yang disinggung di atas, sistem sensor dibuat dalam upaya mengatasi keresahan atas konten-konten pornografi yang berseliweran di jagat maya.

Berbicara kepada The Register, Rodrigo Barros, rekan penulis studi tersebut mengatakan, pendekatan yang dijelaskan dalam penelitian ini adalah cara yang menarik dan baru untuk melakukan sensor pada gambar. Sayangnya, sistem ini belum dapat diimplementasikan dalam waktu dekat.

“Kami percaya bahwa metode kami dapat menyensor gambar porno. Namun saat ini dapat diterapkan, sebab belum cukup kuat,” ujarnya dilansir The Register, Senin (23/7).

Untuk melatih AI, para peneliti menunjukkannya sebuah gambar perempuan mengenakan bikini. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengajarkan sistem AI untuk belajar soal penempatan bikini pada tubuh perempuan. Selanjutnya, ia diberi gambar yang benar-benar tanpa busana untuk membantunya belajar menempelkan atau menempatkan bikini.

“Ketika kita melatih jaringan, dicoba untuk memetakan data dari satu domain gambar telanjang ke domain lain dengan gambar baju renang. Distribusi gambar dari kedua domain sangat berbeda dan rumit,” ujar Barros.

Alasan soal belum di implementasikannya sistem berbasis AI ini ke ranah publik adalah karena masih sering ditemukan kegagalan. “Sementara AI bekerja dengan baik dalam menambahkan bikini ke beberapa gambar, itu kurang berhasil dengan yang lain,” imbuh Barros.

Satu hal yang perlu diperhatikan, lanjut Barros, adalah perhatikan beberapa gambar baju renang hasil foto pemotretan, ditembak di latar belakang putih, sementara latar belakang gambar telanjang sering cukup kompleks misalnya latar alam ataupun benda lainnya. Sederhananya, sistem kesulitan membaca dan melakukan seleksi gambar dimaksud.

(ce1/ryn/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar