Indahnya Lily Holland dari Negeri di Atas Awan Dieng

Posted on

Banjarnegara – Dieng di Jawa Tengah sepertinya tidak pernah habis menyuguhkan keindahan. Bukan hanya panorama cantik, traveler juga bisa melihat bunga lili warna-warni.

Selain panorama alam seperti Telaga Merdada, Kawah Sikidang, Gunung Prau, Telaga Warna, Sikunir, juga menyuguhkan warisan budaya lainnya. Sebut saja, Candi Arjuna dan anak gimbal.

Namun tidak hanya itu, tumbuhan yang ada di dataran tinggi dieng juga memanjakan mata. Ya tumbuhan itu adalah bunga Kala Lili (Calla Lily), salah satu jenis flora yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi.

Bahkan saat ini, salah satu petani Kala Lili di Dieng, Kecamatan Batur, Banjarnegara Bambang Riyadi mulai mengembangkan bunga tersebut. Ia tidak hanya mengandalkan Kala Lili lokal, namun mulai mendatangkan langsung dari Belanda dalam bentuk biji.

“Sekarang saya sudah mulai menanam Kala Lili dari Belanda atau Lily Holland. Sementara ini, di Indonesia baru di sini,” tuturnya saat ditemui detikTravel di kebun bunga Kala Lili, Kamis (31/5/2018).

Bunga kala lili impor dari Belanda punya warna-warni meriah (Uje/detikTravel)

Berbeda dengan Kala Lili lokal, rupanya bunga yang didatangkan dari Belanda ini berukuran lebih kecil. Namun, warna bunganya lebih beragam. Misalnya, kuning, ungu, merah hingga biru.

Baca Juga :  Seperti di Negeri Dongeng, Ada Kastil di Pinggir Laut Prancis

“Kalau yang lokal hanya warna putih dan hijau. Tetapi ukurannya memang lebih lebar,” jelasnya.

Untuk harganya pun berbeda. Jika Kala Lili lokal Bambang membandrol Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu per batang. Namun untuk Lily Holland biasanya mencapai Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu per batang.

Bunga kala lili lokal diketahui berwarna putih (Uje/detikTravel)Bunga kala lili lokal diketahui berwarna putih (Uje/detikTravel)

Dikatakan Bambang, harga Lily Holland yang diimpor dari Belanda naik drastis hingga Rp 80 ribu per batang jika di negara asalnya tengah terjadi musim salju.

“Sejauh ini, saya sudah mengirim bunga Kala Lili ke berbagai kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, Yogyakarta dan sekarang mau dikirim ke NTB,” paparnya.

Bambang mengaku sudah mulai menanam Lily Holland sejak setahun lalu. Tetapi, untuk Kala Lili lokal sudah mulai menanam sejak 4 tahun lalu bersama beberapa petani lain di Dieng.

“Tetapi, untuk bunga Lily Holland memang baru saya. Karena butuh modal yang besar. Petani lain masih mengambangkan Kala Lili lokal,” kata dia.

Salah satu petani bunga kala lili, Bambang Riyadi (Uje/detikTravel)Salah satu petani bunga kala lili, Bambang Riyadi (Uje/detikTravel)

Menurutnya, banyaknya petani di Dieng yang mula beralih menanam bunga Kala Lili ini karena harga kentang yang tidak stabil. Belum lagi biaya operasionalnya yang membengkak jika ada serangan hama.

Baca Juga :  Libur Lebaran, Asyiknya Main ke Bukit Teletubbies Bromo

“Jika dibanding dengan harga kentang, harga bunga Kala Lili lebih stabil. Makanya banyak yang sudah beralih menanam bunga ini,” ujarnya.

Apalagi, untuk menanam bunga Kala Lili ini jauh lebih mudah dibanding kentang. Jika melihat tanah di Dieng menurutnya cocok untuk ditanam Kala Lili. Bunga tersebut hanya bisa hidup dengan ketinggian 1.400 mdpl, sedangkan di DIeng mencapai 2.000 mdpl.

“Sekarang sudah ada 20 petani yang beralih dari kentang ke Kala Lili. Mungkin nanti mereka juga akan mengembangkan ke Lily Holland,” tuturnya. (wsw/wsw)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar