Ingat! di Terusan Brexit Menuntut Tangki Penuh

Posted on

Setelah dua seksi awal tol Pemalang–Pejagan dioperasikan dalam dua edisi Lebaran terakhir, dua seksi berikutnya siap dibuka untuk menyambut Lebaran tahun ini.

Familier dengan tol Brexit? Kependekan dari Brebes Exit itu merupakan ujung ruas tol Pejagan–Brebes Timur yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 16 Juni 2016. Kala itu, banyak pemudik yang ingin merasakan sensasi melintasi ruas tol tersebut sehingga menimbulkan kemacetan parah.

Kini, terusan Brexit yang menjadi bagian tol Pemalang–Pejagan siap menyambut arus mudik dan arus balik saat Lebaran nanti. Masing-masing dua seksi di Brebes Barat–Tegal dan Tegal–Pemalang. Apakah kemacetan di Brexit bakal terurai?

MINIM PENERANGAN: Rest area km 252 arah Semarang di wilayah Brebes Timur dalam ruas Tol Pemalang–Pejagan saat dipotret pada malam hari (12/5). (BOY SLAMET/JAWA POS)

Kepada Jawa Pos pada 12 Mei lalu, Kepala Cabang Tol Pemalang–Pejagan Ian Dwinanto optimistis kemacetan di Brexit bisa terselesaikan saat Lebaran. Yang jadi masalah adalah berpindahnya kemacetan ke exit tol Sewaka. Yakni, gerbang tol (GT) darurat yang difungsikan hingga exit tol Gandulan, Pemalang.

GT darurat Sewaka merupakan bagian dari ruas tol Pemalang–Pejagan sekaligus perbatasan dengan tol fungsional Batang–Pemalang. Lantas, bagaimana solusinya? Ian menjawab santai. Menurut dia, skema seperti tahun-tahun sebelumnya masih bisa diterapkan. ’’Jika Sewaka macet, nanti dikeluarkan di Tegal. Kalau Tegal macet, ya di Brexit. Begitu seterusnya mundur ke belakang,” katanya.

Ian menuturkan, dua seksi terbaru dari tol Pemalang–Pejagan sebenarnya siap diberlakukan secara operasional (berbayar). Namun, karena belum mengantongi hasil uji laik, statusnya masih fungsional.

Sebagai catatan, pada 12 Mei lalu, ruas tol tersebut telah digunakan untuk event bersepeda. Sembari berolahraga, pihak pengelola turut memantau pembangunan ruang Brebes Timur–Pemalang itu. Hasilnya, kondisi jalan hampir mencapai 100 persen. ’’Tinggal pemasangan rambu dan pernak-pernik jalan,” jelas Ian.

Lima rest area (RA) juga siap digunakan. Perinciannya, tiga RA untuk jalur arah ke Semarang dan dua sisanya arah Jakarta. Berbeda dengan kebanyakan RA yang dibuat berhadap-hadapan, lima RA tersebut dibuat saling terpisah. Yang patut menjadi perhatian, semua RA belum dilengkapi SPBU. Jadi, pelintas harus mengisi penuh tangki bahan bakar kendaraan sebelum memasuki tol. ’’Berdasar pengalaman tahun lalu, BBM memang paling sulit dicari,” imbuh Ian. 

Baca Juga :  Pos Indonesia Banjir Order Pengiriman Uang Selama Ramadan 2018

Tetap Fokus saat Melintas Malam Hari

Tol Pemalang–Pejagan terkenal dengan jalan lurusnya yang panjang. Kondisi itu membuat pengendara memacu kendaraannya lebih cepat. Hal itu berisiko tinggi jika pengendara tidak waspada dan cekatan. Ditambah batas kecepatan maksimal 100 km/jam dan melintasinya ketika malam.

Yang harus diperhatikan, kondisi sebagian besar ruas Tol Pemalang–Pejagan gelap saat malam. lampu penerangan jalan umum hanya terpasang di sekitar gerbang tol (GT), rest area, dan simpang susun (interchange).

Jawa Pos merasakannya saat melintas pada 12 Mei lalu. Dituntut fokus jika tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih ketika menyetir dalam kondisi fisik tidak fit atau mengantuk. ’’Mayoritas laka (di Tol Pemalang–Pejagan) akibat pengendara tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya dalam kecepatan tinggi,’’ kata Ian Dwinanto, kepala cabang Tol Pemalang–Pejagan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pengelola berencana memasang speed trap (pita kejut) di beberapa titik. Khususnya titik menjelang rest area dan yang dianggap rawan terjadi kecelakaan. Terkait masih minimnya PJU, Ian menyebut pemasangan reflektor di sisi kanan dan kiri jalan jadi solusi. ’’Jadi, batas jalan masih terlihat meski hujan sekalipun,’’ jelasnya.

Ian juga mengimbau pengendara untuk tidak memaksakan diri berkendara saat malam kecuali sangat mendesak. Opsi untuk beristirahat di rest area tol juga patut dipertimbangkan. ’’Kalau lelah, jangan dipaksakan. Bisa ngopi dulu di rest area. Baru lanjut lagi,’’ jelasnya.

Kemacetan Malah Membawa Rezeki

Bawang merah dan telur asin merupakan komoditas yang jamak ditemui di kawasan Brebes. Saat melintasi tol Pemalang–Pejagan, hamparan tanaman bawang sangat mudah ditemui di kiri dan kanan tol.

Menuju Gerbang Tol (GT) Brebes Timur, pedagang bawang merah dan telur asin malah menggelar dagangan di pinggir jalan. Saat arus mudik, jumlah penjual tersebut akan semakin banyak. Tak heran para pedagang tersebut kadang harus kucing-kucingan dengan pengelola tol.

Menurut salah seorang pemilik kios bawang merah dan telur asin, Suwarto, tol Pemalang–Pejagan tak ubahnya buah simalakama buat mereka. Sebab, kios mereka yang terletak di jalur pantura berada persis di luar jalan tol. ’’Tidak semua yang melintas tol ini saat arus mudik dan arus balik mau keluar tol hanya untuk membeli bawang merah dan telur asin. Jadi, sejak ada tol, pendapatan berkurang,’’ kata pria yang akrab disapa Warto itu.

Baca Juga :  Mudik Bersama BUMN, Taspen Angkut 2.048 Pemudik Tahun Ini

Namun, saat terjadi kemacetan seperti di Gerbang Tol Brebes Timur (Brebes Exit atau Brexit) tahun lalu, para pedagang justru menuai keuntungan. Sebab, setelah terjebak macet, para pelintas tol ingin beristirahat sejenak. ’’Kebetulan kios saya ada di dekat exit (Brebes Timur). Kalau biasanya cuma puluhan kilogram yang laku, saat itu lakunya bisa ratusan kilogram,’’ jelas pria berusia 47 tahun itu.

Untuk harga, per ikat bawang merah seberat 1 kilogram dijual Rp 30 ribu. Harga bawang merah yang tak diikat atau yang sering disebut bawang merah rontokan lebih murah. Dijual Rp 25 ribu.

Lalu, untuk telur asin, per kotak yang berisi sepuluh telur dibanderol Rp 40 ribu. Satu kotak biasanya berisi telur asin biasa lima buah dan telur asin bakar lima buah. Tapi, seandainya pembeli menginginkan hanya satu jenis, telur asin biasa atau telur asin bakar, Warto juga menerima pesanan itu.

Maskanah, pedagang lain di Gerbang Tol Brebes Barat, menyatakan bahwa bukan hanya telur asin dan bawang merah yang dicari sebagai buah tangan di area Brebes. Tembikar teh poci juga lumayan dicari. Satu set tembikar untuk membuat teh yang disajikan dengan gula batu itu dijual seharga Rp 120 ribu sampai Rp 140 ribu. Satu set itu berisi satu teko kecil dan empat gelas. ”Kadang ada pesanan menjelang Lebaran,” jelas Maskanah.

(dra/din/c18/dns)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar