Jalur Tol Ngawi-Sragen Rampung, Lintasan Belum

Posted on

SEJATINYA tol Ngawi-Sragen sudah ”rampung”. Tapi, tol sepanjang 55,05 km tersebut belum bisa dioperasikan. Termasuk saat masa mudik dan balik Lebaran nanti.

————-

SITUS PURBAKALA: Museum Sangiran, salah satu destinasi wisata andalan di Sragen. Lokasinya berjarak beberapa kilometer dari pintu tol Sragen. (BOY SLAMET/JAWA POS)

Meski begitu, tol tersebut tetap bisa dilewati ketika libur Lebaran nanti. Dua arah. Baik dari arah Solo maupun Ngawi. ”Saat mudik Lebaran nanti akan jadi jalur fungsional. Tim kami sudah koordinasi dengan pihak kepolisian,” kata Direktur Teknik PT Solo Ngawi Jaya Thorry Hendrarto.

Artinya, tol boleh dilintasi tanpa bayar. Juga, sebanyak apa pun nanti kendaraan yang melintas, hal tersebut tidak akan membuat tol bermasalah. Atau dengan kata lain, tidak akan mengakibatkan kerusakan pada badan tol. ”Ini main road-nya sudah jadi. Sudah selesai layaknya jalan tol lain,” terang pimpinan proyek paket 2 Mantingan–Ngawi Aditya Kurnia.

Hanya lintasan-lintasan antardesa atau antarkampung yang belum rampung. Wujudnya, ada overpass dan underpass. Antara Ngawi sampai Mantingan, terdapat 24 overpass dan 1 underpass. Dari jumlah itu, baru satu overpass yang selesai dan sudah difungsikan. ”Yang lain dalam tahap pengerjaan,” ujar Aditya. Pengerjaannya bukan pemasangan bentang yang melintang di atas tol. Sebab, semua sudah selesai dipasang. Yang dikerjakan adalah sambungan bentang tersebut dengan badan jalan di desa atau kampung-kampung. Atau opritnya.

Pada 4 Mei lalu, Jawa Pos mendapatkan izin untuk melintasi tol Ngawi-Sragen. Begitu masuk dari Ngawi, Jawa Pos melihat bahwa aktivitas pembangunan tol memang berkutat pada pengerjaan oprit. Yakni, penyambungan dari konstruksi utama overpass dengan badan jalan antardesa. Misalnya di Km 576, Km 572, dan Km 571. Untuk jalur utama tol, tak ada lagi pekerjaan. Bahkan, mayoritas ruasnya sudah bersih dan nyaman untuk dilewati. Jawa Pos bisa memacu laju kendaraan 100 km per jam. Layaknya di tol yang sudah beroperasi.

Baca Juga :  PT INKA Ekspor Kereta Api Senilai 57,2 Juta Dolar AS ke Filipina

Hanya, di titik-titik dengan pengerjaan lintasan, kecepatan tidak bisa maksimal. Sebab, tidak hanya ada orang yang kerja dan truk-truk yang membawa material untuk pembangunan lintasan, banyak juga warga yang menyeberang. Baik yang menyeberang dengan berjalan kaki, naik sepeda, maupun mengendarai motor atau mobil. Lalu-lalang yang paling ramai terdapat di Km 556 atau di proyek pengerjaan underpass Walikukun, Ngawi. ”Kalau nanti jadi jalur fungsional saat Lebaran, konsekuensinya, memang harus ada banyak petugas yang ditempatkan di lintasan-lintasan,” tutur Aditya.

Petugas itu tentu ditempatkan untuk mengatur lalu-lalang kendaraan yang melintas di tol. Dengan begitu, arus mudik dan balik lewat tol Ngawi–Sragen bisa lancar. Selain itu, meminimalkan terjadinya kecelakaan. ”Untuk lintasan yang pengurukannya sudah selesai, nanti pejalan kaki atau kendaraan bisa lewat atas. Jadi, bisa mengurangi volume yang berlalu-lalang menyeberang tol,” papar Aditya.

Tak Ada Pintu di Mantingan

Sebagai titik perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, Mantingan terbilang ramai. Kegiatan ekonominya jauh lebih bergeliat dibandingkan dengan wilayah lain di Ngawi. Di Mantingan juga berdiri Pondok Gontor Putri yang sudah tersohor. Pondok Gontor Putri yang berdiri di Mantingan tidak hanya satu, tapi dua. Yakni, Pondok Gontor Putri I dan II.

Baca Juga :  Hati-hati Microsleep, Penyebab Kecelakaan Saat Mudik Lebaran

Tidak jauh dari sana, tepatnya di Karangbanyu, juga berdiri Pondok Gontor Putri III. Tiga pondok tersebut merupakan cabang lembaga pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo. Jumlah santri yang mondok di ketiga pondok mencapai ribuan.

Dengan kondisi tersebut, banyak yang mengharapkan adanya pintu tol di Mantingan. Apalagi, waktu tempuh Mantingan dari Ngawi maupun Sragen sekitar satu jam. Bahkan bisa lebih kalau dari Ngawi. Sebab, jalan nasional yang menghubungkan Ngawi–Mantingan hanya satu lajur untuk masing-masing jalur.

Sudah begitu, kendaraan tak leluasa menyalip lantaran jalan yang berkelok dan sempit. Kalau berada di belakang truk yang berjalan lambat, perjalanan pasti bakal lama. ’’Saat ini tidak ada pintu di Mantingan. Di gambarnya tidak ada,’’ kata Aditya Kurnia, pimpinan proyek Paket 2 Mantingan–Ngawi.

Dia menyatakan, saat ini hanya ada dua pintu tol, yakni di Ngawi dan Sragen. Namun, semua bisa berubah seiring dengan perjalanan waktu dan kebutuhan. ’’Sejauh ini memang belum ada. Tapi, tidak tahu ke depan,’’ ujar Aditya. Saat ini, di internal PT Solo Ngawi Jaya, memang muncul wacana untuk membuat pintu Sragen Timur.

(fim/c11/oki)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar