Jangan Jor-joran Beri Si Kecil Uang Saku, Perhatikan Hal Penting Ini

Posted on

Pertama, anak memiliki keinginan membeli barang atau mainan dengan nilai besar. Kedua, anak menyadari kebutuhan untuk menyimpan uang, dan bukannya menghabiskan seluruh uang yang dimiliki.

Atau ketiga, anak mampu untuk berhitung dan mampu untuk bertanggung jawab dalam penyimpanan uang saku. Jika anak Anda sudah berada pada salah satu kondisi tersebut, maka inilah hal-hal yang sebaiknya diperhatikan dalam pemberian uang saku.

Sebagai sumber penghasilan utama si anak, sisa uang saku bisa ditabung.
(Pixabay)

1. Mencatat dan mengevaluasi penggunaan

Anda bisa mengajarkan untuk membagi uang saku menjadi tiga pos misalnya dengan prosentase 50:40:10. Artinya setengah dari uang saku bebas dibelanjakan anak untuk jajan dan belanja.

Kemudian, 40 persen dari uang saku sebaiknya ditabung untuk dana pembelian barang yang bernilai besar di kemudian hari. Sedangkan 10 persennya disisihkan untuk dana sosial seperti kotak amal maupun sumbangan.

2. Frekuensi pemberian

Hingga anak berusia 10 tahun, uang saku biasanya diberikan secara harian. Namun, di atas usia tersebut, ada baiknya mulai diberikan secara mingguan. Dengan konsep tersebut, anak akan belajar untuk membagi uang sakunya agar cukup memenuhi kebutuhannya selama periode tersebut.

Baca Juga :  Libur Lebaran Panjang, Bank BRI Siapkan Kebutuhan Uang Rp 28 Triliun

Anda sebaiknya tegas kepada anak ketika mereka meminta tambahan uang saku karena menghabiskan uang saku sebelum periode berakhir. Ajarkan anak untuk menghadapi konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya.

Misalnya, daripada memberikan uang saku tambahan untuk jajan, ajarkan anak untuk membuat sendiri barang yang diinginkan.

3. Kapan memberi tambahan uang saku?

Uang saku juga bisa menjadi metode yang tepat dalam mengajarkan konsep kewajiban dan hak. Misalnya, anak bisa mendapatkan uang saku tambahan ketika membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan usianya.

Momen khusus seperti lebaran maupun pembagian rapor bisa jadi waktu yang tepat untuk memberikan insentif atas hasil usahanya. Atau, saat anak memperoleh prestasi gemilang di sekolah berkat ketekunannya belajar, maka ada tambahan uang saku yang diberikan.

4. Bentuk uang saku

Uang saku berbentuk tunai akan lebih mudah untuk dibelanjakan, namun lebih sulit untuk dicatat dan dievaluasi penggunaannya. Sedangkan, uang saku berbentuk kartu elektronik akan memudahkan orang tua untuk melakukan pengawasan.

Baca Juga :  Pertamina Menambah Premium di 571 SPBU Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Hingga anak berusia 15 tahun, ada baiknya uang saku diberikan dalam bentuk tunai. Tetapi, ajak anak membuka tabungan atas nama sendiri untuk keperluan menabung.

5. Hal terakhir dan paling utama yang perlu Anda pahami dalam menerapkan konsep di atas adalah peran aktif orang tua untuk memberikan contoh dan berkomitmen dengan peraturan yang telah disepakati bersama si kecil.


(mys/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar