JawaPos.com | Selalu Ada yang Baru

Posted on

JawaPos.com – Nilai tukar rupiah masih belum menunjukkan perbaikan hingga Senin (21/5) kemarin. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) rupiah berada pada level Rp 14.176 per dolar Amerika Serikat (USD).

Menanggapi hal itu, Gubernur BI Agus Martowardojo menilai jika masih ada tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah hingga saat ini. Hal itu menyebabkan mata uang Indonesia belum menunjukkan perbaikan.

“Kayaknya memang ada tekanan dan dalam banyak hal itu karena ada rencana sanksi yang akan diberikan oleh amerika mungkin ga jadi dikeluarkan dan ada sentimen positif untuk us dolar akibatnya negara lain currencynya melemah tapi secara umum ini dialami oleh negara-negara lain juga,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/5) malam.

Baca Juga :  Ini Proyek Infrastruktur yang Dibiayai Surat Utang Syariah

Ilustrasi Gedung Bank Indonesia

Sementara itu Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menambahkan, tekanan eksternal terhadap rupiah disebabkan karena perekonomian Amerika Serikat terus menunjukkan hasil positif diluar perkiraan banyak pihak. “Artinya data makro mereka tumbuh lebih cepat dari yang kita perkirakan,” tambahnya.

Menurut Doddy, kondisi global saat ini jelas membuat rupiah terus melemah. Tidak hanya Indonesia, mata uang negara lain juga ikut ‘menderita’ akibat faktor tekanan eksternal.

“Kita tentunya pertama ga bisa melawan mekanisme pasar,” tuturnya.

Kendati demikian, BI akan terus ada di pasar dan melakukan upaya dalam menjaga stabilitas rupiah. Dia menilai jika level rupiah masih dalam batas yang aman.

Baca Juga :  Tak Ikuti Libur Panjang, 120 Kantor Cabang BCA Bakal Buka Lebih Awal

“Saya rasa untuk level  yang sekarang ini masih fit untuk kondisi rupiah. Sebagaimana statement  sebelumnya,  kita jaga likuiditas rupiah dan  likuiditas valas dengan intervensi di pasar,” pungkasnya.

(hap/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar