Kecurigaan Tiang LRT Makan Biaya Mahal, Ini Penjelasan Menhub

Posted on

JawaPos.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi merespon pernyataan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah soal tiang penopang lintasan proyek light rail transit (LRT) yang menghabiskan biaya besar. Menurutnya, ukuran tiang-tiang proyek LRT tersebut merupakan lintasan layang atau elevated. Paket pembangunan lengkap dengan tiang-tiangnya tersebut telah diperhitungkan matang.

“Saya yakin walaupun LRT dibangun sebelum saya jadi menteri, perhitungan-perhitungan untuk menjadikan elevated sudah dipikirkan secara matang,” ujar Budi Karya saat ditemui usai halalbihalal di Rumah Dinas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Jakarta, Senin (25/6).

Budi menjelaskan, pembangunan infrastruktur elevated LRT tersebut mengacu pada jangka panjang. Dengan struktur layang tersebut, LRT lebih mudah dikembangkan ke depannya.

Menhub Budi Karya tinjau proyek pembangunan jalur ganda Bekasi (Sachril Agustin/JawaPos.com)

“Bisa menjadi proyek 100 tahun kemudian, dimana LRT akan banyak cabang-cabang dan Jakarta akan dijadikan conection MRT, LRT, BRT, supaya orang berlalulintas tidak gunakan kendaraan pribadi saja,” jelasnya.

Budi pun mengaku, pembangunan LRT yang dibangun secara mendatar diatas permukaan memang lebih murah, namun dengan konstruksi elevated jauh lebih unggul.

“Kalau di flat, at grade (permukaan tanah), itu kan crossing (persilangan). Kalau crossing maka kereta tidak maksimal, terjadi kemacetan dan sebagainya,” tuturnya.

Sebagai informasi, sama seperti tudingan Ketua Umum Partai Gerindra, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku ikut curiga dan menduga ada mark up di proyek pembangunan light rapid transit (LRT) di Indonesia. Dia mempertanyakan kenapa tiang LRT tinggi-tinggi.

Menurutnya, pembangunan LRT di Indonesia terlihat ganjil. Keganjilan, kata Fahri, pada pembangunan tiang pancang LRT yang disebutnya terlalu tinggi.

(mys/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar