Keteladanan Kiai Djamal (1): Bangun Unismuh Tanpa Uang Negara

Posted on

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – KH Djamaluddin Amien memiliki suara khas. Ketika pidato, lebih sering mengatakan, “saudara-saudara…”

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulsel itu wafat di usia 84 tahun dan dimakamkan di kampung halamannya, Bantaeng, Senin, 17 November 2014.

Jenazah Kiai Djamal, sapaan Kiai Djamaluddin Amien, dilepas oleh Gubernur Sulsel (ketika itu) Syahrul Yasin Limpo dan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang di Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar.

Kiai Djamal yang juga pendiri Kampus Unismuh ini tutup usia di Private Care Centre (PCC) RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Minggu (16/11/2014) sore.

“Abba (ayah) itu orang disiplin, masjid, dakwah, mengajar, dan selalu pegang buku, kitab,” ucap Abdul Hadi Djamal mengenang ayahandanya.

Mantan anggota DPR RI itu menilai Kiai Djamal sangat demokratis mendidik anak-anaknya.

“Waktu kami masih kecil, Abba pintar caranya hukum kami, kalau kami nakal-nakal, saudara yang benar disuruh hukum yang salah. Abba juga tidak langsung mengatakan kalau ada salahnya orang. Tapi ada analogi, pengetahuan baru dimunculkan, istilahnya kena halus, biasa berkisah tentang nabi bahwa yang begini, akibatnya ini, hukumnya, dan betul,” jelas Hadi Djamal.

“Abba boleh dikata mengajar sampai akhir hayat. Rajin membaca, gigih berda’wah, di tangannya selalu ada buku. Pikirannya, kembangkan sekolah agama, pendidikan tidak boleh berhenti, makanya beliau bikin sekolah tarjih (pendidikan ulama) di belakang rumah,” kata Hadi menambahkan.

Selain itu, kata Hadi, jelang akhir hayat, Kiai Djamal yang juga mantan rektor terlama di Unismuh itu, rajin menonton siaran televisi Timur Tengah, Al Jazerah.

“Selalu itu mau nalihat kabarnya Palestina, Abba sedih ketika tahu kabar Palestina diserang lagi,” ungkapnya.



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar