Kondisi Jalan di Tol Batang-Pemalang Lebih Tebal, Lebih Nyaman

Posted on

Pengelola Tol Batang–Pemalang belajar banyak dari arus mudik Lebaran tahun lalu. Tahun ini, tol fungsional sepanjang 39,2 km tersebut melakukan banyak pembenahan.

Ketika arus mudik Lebaran tahun lalu mencapai Pemalang, Jembatan Grogolan Pekalongan menjadi titik macet yang menuai sorotan. Antrean kendaraan bisa mencapai belasan kilometer di jembatan yang jalurnya menyempit tersebut.

SUDAH 90 PERSEN: Pekerja merapikan timbunan-timbunan sisa material di kanan kiri ruas tol arah Pekalongan. Pemasangan lampu, markah, rambu, dan pagar pengaman sudah dituntaskan (BOY SLAMET/JAWA POS)

Kondisi jalan yang belum seluruhnya dibeton adalah alasan utamanya. Hal itulah yang menjadi concern pengelola Tol Batang–Pemalang, PT Pemalang Batang Tol Rod (PBTR), menyambut Lebaran tahun ini. Ruas tol yang semakin nyaman menjadi target PBTR.

Bukan hanya menuntaskan pembetonan, melainkan juga menambah ketebalannya. Dengan begitu, pelintas bisa memacu kendaraan lebih cepat untuk mengurai kepadatan kendaraan. ”Tahun lalu jalan rigid  (beton) tidak setebal tahun ini. Kalau tahun lalu cuma sepuluh sentimeter, maka tahun ini mencapai 30 sentimeter,” kata Bagian Umum PBTR Sartono kepada Jawa Pos pada 21 Mei lalu.

Bertambahnya ketebalan jalan, lanjut Sartono, membuat pemudik yang memacu kendaraan dengan kecepatan 80 km/jam terasa lebih stabil. Juga memangkas waktu. Jika Batang–Pemalang biasanya ditempuh lebih dari dua jam, kini hanya membutuhkan 40 menit. “Itu dengan asumsi kecepatan 80 km/jam lho ya,” imbuh Sartono.

Baca Juga :  Tol Pejagan–Kanci, Gerbang Baru Solusi Kemacetan

Dari hasil pantauan Jawa Pos, mulai Gerbang Tol (GT) Gandulan Pemalang sampai rest area di Kelangdepok, jalurnya sudah mulus. Awal bulan ini, pengelola bakal membersihkan timbunan-timbunan sisa material yang ada di kanan kiri jalan.

Lalu, dari rest area Kelangdepok sampai Under Pass (UP) Pekajangan, masih dalam proses pengerjaan. Untuk Pekajangan sampai GT Setono belum rampung dan masih pengurukan.

PBTR sejatinya merencanakan ada GT di area Sokoduwet. Akan tetapi Pemkot Pekalongan menginginkan GT di jalur pantura. Walhasil, pemkot menambah jalur sepanjang 3,3 kilometer dengan GT di Setono.

Terpisah, Highway Engineering PBTR Suwarto Hari Sulaksono menyatakan bahwa tol Batang–Pemalang sudah mencapai 90 persen. Pemasangan lampu, marka, rambu, dan pagar pengamanan sudah dituntaskan. Hanya, seiring statusnya masih fungsional, hanya satu jalur yang dibuka. Periode 8 Juni sampai 15 Juni untuk arus mudik, lalu 15 Juni sampai 22 Juni untuk arus balik.

”Sesuai instruksi, maka H-10 Lebaran, tol sudah dibuka gratis untuk pemudik. Baru berbayar setelah Lebaran,” jelasnya.

Tak Lengkap tanpa Batik Pekalongan

JULUKANNYA Kota Batik. Tidak salah memang, karena Pekalongan pasti identik dengan batik. Maka, tak lengkap rasanya melintas di Pekalongan tanpa membawa oleh-oleh batik.

Ada dua tempat di Pekalongan yang sering menjadi jujukan untuk mencari batik. Kemasan tradisional nan rapi bisa ditemukan di Pasar Grosir Setono. Sementara itu, model kekinian banyak tersedia di International Batik Center (IBC) Pekalongan.

Baca Juga :  Garuda Tambah Seat Dan Frekuensi Penerbangan Selama Libur Lebaran

Pelintas tol Batang–Pemalang pun bisa dengan mudah ke sana. Untuk Pasar Grosir Sentono, bisa keluar melalui exit tol Setono. Lalu, untuk menuju IBC, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan dari exit tol Setono.

Jawa Pos menyempatkan mampir ke IBC (21/5). Terlihat cukup sepi untuk ukuran pusat grosir batik modern. Padahal, lokasinya di jalur utama pantura. ’’Akan ramai saat momen liburan, libur sekolah, Lebaran, dan tahun baru,” ucap Triyana, salah seorang pedagang di IBC Pekalongan.

Sejak dibuka pada 2012, IBC saat ini memiliki 700 kios berbagai ukuran untuk menampung para pedagang. Dan, hampir setiap pedagang menjual batik dengan motif yang berbeda satu sama lain.

Motif jlamprang atau motif khas Pekalongan, misalnya. Motif tersebut didominasi bentuk lingkaran. Sejumlah modifikasi membuat motif itu lebih harmonis dengan perpaduan warna yang atraktif.

Model dan bentuk batik yang dijual pun cukup beragam. Mulai kaus, kemeja, celana, hingga scarf. Harganya variatif. Batik tulis dengan bahan kain sutra berada di deretan tertinggi. ”Ada yang sampai Rp 2 juta,” jelas Mbak Tri, sapaan akrab Triyana.

(dra/din/c18/dns)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar