Melintas Gratis di Tol Solo–Sragen Mulai H-7 Lebaran

Posted on

Proses pembangunan jalan tol Solo–Sragen hampir rampung. Serangkaian uji laik fungsi sudah dilakukan pada awal April lalu. Dengan begitu, tol tersebut bisa dilewati saat arus mudik Lebaran nanti.

––––

TIDAK PERLU TAP: Gerbang Tol Sragen di Desa Pungkruk. Ruas tol Solo – Sragen terdiri dari empat gerbang tol. (BOY SLAMET/JAWA POS)

TOL Solo–Sragen tersambung dengan tol Ngawi–Wilangan di sisi timur. Lalu, sisi barat bisa tersambung dengan ruas tol fungsional Solo–Salatiga. Ruas sepanjang 35 kilometer itu mempunyai empat gerbang tol (GT). Mulai GT Sragen, Karanganyar, Ngemplak, hingga GT Colomadu. Namun, pemudik sepertinya belum bisa melewati GT Karanganyar. Sebab, jalur keluar menuju jalan arteri Solo–Sragen masih dalam pembangunan.

Jawa Pos telah mencoba rute tersebut. Hasilnya, kondisi jalur memang telah rampung hampir 100 persen. Namun, sejumlah komponen pelengkap nonjalan masih perlu pembenahan. Misalnya, masih adanya lintasan sebidang yang belum tertutup. ’’Flagman kita perlukan untuk menjaga lintasan sebidang agar clear,’’ kata Manajer Operasional PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) Imam Zarkasih.

Jalur itu diprediksi jadi primadona pemudik. Sebab, akan sangat memangkas waktu perjalanan dari Solo menuju Sragen atau sebaliknya. Normalnya, melewati jalan arteri membutuhkan waktu satu hingga satu setengah jam. Namun, lewat tol baru tersebut, Solo–Sragen bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kecepatan 90 km/jam–100 km/jam.

Ditambah lagi, jalur sepanjang itu dapat dilewati secara gratis. Artinya, pemudik tidak perlu tap kartu tol di GT. Namun, hal tersebut hanya berlaku untuk kendaraan golongan I. ’’Tapi, kalau melanjutkan ke arah Madiun, disediakan gerbang tol sementara Ngawi di jalur bawah,’’ jelas Imam.

Seiring konstruksinya yang hampir rampung, pengelola memberanikan diri untuk membuka operasional tol hingga 24 jam. Hanya, kondisi itu bergantung volume kendaraan yang melintas. ’’Kami upayakan 24 jam. Tapi, kalau sampai pukul 21.00 tidak ada kendaraan, kami tutup,’’ kata Imam.

Pemudik pun bisa melintasi ruas tol tersebut mulai H-7 Lebaran. Tepatnya, mulai 8 Juni nanti pemudik bisa merasakan sensasi tol baru itu. Untuk arus balik, pemudik dapat melintas pada 18–24 Juni.

Yang perlu menjadi perhatian, jalur tol Solo–Sragen hanya memiliki satu rest area (RA). Yakni, pada kilometer 518. Meski begitu, RA tersebut merupakan RA tipe A. Jadi, bisa menampung banyak kendaraan. Fasilitasnya pun cukup lengkap. ’’Rest area yang hampir jadi arah ke Sragen. Arah sebaliknya masih darurat, tetapi bisa digunakan untuk berhenti,’’ terang Imam.

Sebenarnya terdapat satu gate yang sedang dalam pembangunan. Yakni, gate menuju Bandara Adi Sumarmo, Solo. Namun, progres jalur exit itu masih mengalami sejumlah kendala pembebasan lahan. Walhasil, pemudik yang ingin menuju Bandara Adi Sumarmo harus keluar lewat GT Colomadu atau GT Ngemplak.

Kesempatan Melihat Manusia Purba

SRAGEN merupakan kawasan yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan arkeologi Indonesia dan dunia. Fosil manusia purba jenis Homo erectus, spesies moyang Homo sapiens, ditemukan di area tersebut.

Diawali dengan penggalian oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan diteruskan oleh Eugene Dubois pada era 1930-an, hingga saat ini artefak manusia purba terus ditemukan di area tersebut. Peninggalan bersejarah itu terkumpul di Museum Sangiran.

Museum yang dinaungi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran itu terbagi dalam empat klaster dan membentang di wilayah seluas 59 kilometer persegi. Empat klaster tersebut adalah Krikilan, Ngebung, Bukuran, dan Dayu.

Di antara empat klaster itu, Krikilan yang selesai direnovasi pada 2011 paling ramai dikunjungi. Sementara itu, tiga klaster lain dikerjakan berurutan pada 2012 (Dayu), 2013 (Bukuran), dan 2014 (Ngebung).

Klaster Krikilan yang beralamat di Jalan Sangiran Km 4, Krikilan, Kalijambe, berjarak sekitar 28 kilometer dari pintu tol Sragen di Desa Pungkruk. Klaster Krikilan berada di barat pintu tol. Museum itu bisa ditempuh lewat rute lain, yakni jalan Solo–Purwodadi.

Ada tiga ruang pamer di Klaster Krikilan. Ruang pamer pertama adalah ruang kekayaan Sangiran. Temuan pertama di situs Sangiran yang berupa bagian atas tengkorak sampai temuan tahun lalu, yakni tulang kaki gajah purba, diperlihatkan.

Ruang pamer kedua berisi langkah kemanusiaan. Di ruang itu, ditunjukkan perjalanan alam semesta sampai terbentuknya Nusantara. Kemudian, ruang pamer ketiga berisi tentang masa keemasan Homo erectus, spesies terbanyak penghuni Sangiran sekitar 1,8 juta tahun lalu.

Untuk ”menghabiskan” tiga ruang pamer tersebut, dibutuhkan waktu 20 sampai 30 menit. Ruang pamer kedua merupakan yang terluas bila dibandingkan dengan dua ruang pamer lain.

Fasilitas parkir, musala, dan kafetaria terdapat di Klaster Krikilan. Biaya masuk per orang Rp 5 ribu. Selain itu, terdapat penjual suvenir yang berupa kaus atau olahan batu fosil di area parkir. ”Selain akhir pekan dan musim liburan sekolah, kunjungan saat Lebaran tak kalah membeludak,” kata Kepala Seksi Pemanfaatan BPSMP Sangiran Iwan Setiawan Bimas.

Salah seorang pengunjung yang ditemui koran ini Minggu pekan lalu (20/5) adalah Istati Diah Astuti. Dia datang bersama anak dan suaminya. Itu kunjungan pertama mereka. ”Sesudah saya beri bacaan tentang zaman prasejarah, anak saya langsung minta lihat manusia purba. Ya saya ajak ke sini (Museum Sangiran, Red),” ujar Istati.

Kesan Istati setelah berkunjung, Museum Sangiran adalah tempat yang pas untuk berlibur serta mengedukasi anak-anaknya. ”Tempatnya juga bersih, terawat, dan ber-AC,” jelasnya.

Tip Berkunjung ke Museum Sangiran

– Jangan datang Senin karena tutup.

– Terdapat lokasi foto yang instagramable, yakni jembatan yang didesain menyerupai tulang belulang binatang purba.

– Mayoritas suvenir yang dijual adalah olahan sisa fosil yang ditemukan di sekitar area penggalian.

(dra/din/c22/dns)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar