Pahlawan devisa bergembira bisa mudik gratis

Posted on

        Surabaya (Antaranews) – Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merantau mencari nafkah ke sejumlah negara tampak bergembira bisa mudik gratis ke kampung halaman tanpa biaya.

        “Alhamdulillah, saya terpilih mengikuti mudik bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Selama ini saya hanya mengoordinasi teman-teman yang ingin transfer uang,” kata Eny Khumaida (38), cleaning service Maskiara Condominium, Jalan Damansara Kuala Lumpur.

        Sebanyak 8.200 PMI telah diberangkatkan dengan menggunakan  140 bus carter ber-AC program “Mudik Bareng Guyub Rukun Bersama BRI” dengan tujuan Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur.

         Mereka dilepas secara resmi oleh Direktur Utama PT BRI Suprajarto dari Gelora Senayan Jakarta, Senin (11/6) pukul 07.30 WIB.

         Suprajarto turut didampingi Komisaris Utama BRI Andrinof Chaniago, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Idham Azis, dan Kepala Badan Narkoba Nasional (BNN) Heru Winarko, serta sejumlah pejabat terkait.

         Jumlah pemudik yang menggunakan moda transportasi lain, seperti kapal laut, kereta api, dan pesawat terbang jauh lebih besar, sebanyak 12.200 nasabah.

        Para PMI yang mengikuti mudik gratis mendapat pelayanan istimewa mulai dari transportasi, akomodasi, “goodie bag”, uang saku Rp75 ribu, dan mendapatkan kartu transaksi elektronik Brizzi dari bank pelat merah tersebut.

        Sebanyak 50 PMI yang berasal dari Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), Taiwan, Arab Saudi, dan Jepang dikumpulkan di hotel bintang lima di Jakarta Hotel The Sultan.

        Mereka merupakan nasabah BRI Remittance yang biasa menggunakannya untuk pengiriman uang ke Tanah Air.

        Mereka dipertemukan satu sama lain hingga bisa saling mengenal. Panitia lantas memutarkan video testimoni dari masing-masing negara asal PMI, mulai dari pekerjaan mereka, alasan merantau ke luar negeri, hingga manfaat merasakan BRI.

                                                                        Devisa Nasional

   Menurut catatan BRI para pahlawan devisa yang berada di luar negeri memberi kontribusi positif dalam menyumbang devisa nasionalsebesar Rp 119 Triliun.

        Wakil Kepala Divisi Bisnis Internasional PT BRI Roni Rudiana mengemukakan hal itu saat “Silaturahmi dan Apresiasi BRI” untuk pahlawan devisa.

        “Jumlah tersebut merupakan jumlah yang tercatat pada tahun 2017, sedangkan yang tidak tercatat lebih banyak lagi,” katanya.

        Bagi bank pelat merah tersebut pengiriman uang PMI ke Tanah Air memberikan dampak positif pada perekonomian wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

        “Wujud pelayanan perbankan kepada PMI di luar negeri dilakukan dengan dua langkah strategis, yaitu sebelum pemberangkatan, BRI memberikan dukungan pembiayaan. Sebelum berangkat diberi bantuan untuk membuka rekening sehingga setelah berada di luar negeri tidak kebingungan untuk transfer ke Tanah Air,” katanya.

        Untuk pengiriman uang ke Tanah Air, mereka menggunakan produk BRIfast Remittance bekerja sama dengan mitra di luar negeri agar pekerja lebih mudah dan nyaman dalam melakukan transaksi pengiriman uang ke Tanah Air.

        Bank ini rencananya juga mengembangkan produk dana pensiun lembaga keuangan yang sudah uji coba di beberapa tempat.

        Para PMI yang kembali ke Tanah Air juga bakal mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) sejalan program pemerintah bagi yang ingin berwirausaha.

        Direktur Penyiapan dan Pembekalan Pemberangkatan BNP2TKI Arini Rahyuwati menyampaikan terima kasih kepada BRI yang telah memberikan kesempatan PMI bersilaturahmi ke kampung halaman bertemu dengan sanak saudara dan sahabat.

        Arini berkali-kali menyebut kata PMI bagi para pekerja tidak lagi menyebut mereka dengan TKI.

        “Saya menginginkan para PMI ketika kembali tidak seperti yang dahulu, tetapi harus lebih meningkat,” katanya.

        BNP2TKI meminta kepada BRI ikut mengawal para PMI di luar negeri agar hasil bekerja di luar negeri dimanfaatkan dengan baik sehingga kembali ke Indonesia bisa meningkatkan kesejahteraan dan status sosial.

                                                                                Bergembira      

   Siti Sundari (27), pekerja migran asal Desa Dander, Kabupaten Bojonegoro, tampak antusias menghubungi saudaranya saat bus yang mereka tumpangi hampir memasuki Alun-Alun Tuban di tengah malam.

        “Saya sudah 7 tahun bekerja di Hongkong. Gaji saya Rp7 juta per bulan. Saat baru masuk, gaji dipotong agen selama 6 bulan dan dipotong untuk biaya visa. Bersih Rp5 juta hingga Rp6 juta,” katanya.

        Wajah gembira terpancar di wajahnya, apalagi dia mengaku selama bekerja di Hongkong relatif tidak pernah mengalami kejadian yang buruk karena majikannya baik.

        “Kalau ada masalah, lapor ke KJRI atau majikan. Sejauh ini saya belum pernah,” katanya.

        Siti setiap minggu, libur. Jika tetap masuk, mendapat uang ganti dari majikannya.

        Ia juga sudah bergabung dengan Grup WhatsApp Buruh Migran Indonesia (BMI) Hongkong. Kalau libur, bisa pergi ke perpustakaan yang dilengkapi fasilitas komputer.

        Kendati senang tinggal di negeri orang, dia ingin kembali ke Tanah Air 1 tahun lagi untuk berwiraswasta.

        Sodikin (54), pekerja migran asal Desa Campur Rejo, Panceng,

Gresik, Jawa Timur, senang bisa ikut mudik gratis, apalagi dirinya sudah lama tidak bertemu anak-anaknya, sementara istrinya menjadi pembantu rumah tangga di Trengganu, Malaysia.

        Pria yang mendapat kartu pendudukan tetap atau permanent resident dari pemerintah Malaysia ini mengaku tidak kesulitan bekerja di negeri jiran.

       “‘Angger gelem uger sirahe’ atau asal mau kepalanya bergerak maka pasti mendapatkan rezeki. Saya biasa mendapatkan RM1.800 per bulan,” katanya.

         Eny Khumaida (39), pekerja migran asal Kasembon, Malang, Jatim, mengatakan bahwa pada bulan ke-11 nanti “permit”-nya sudah sambung ke-7.

        Petugas cleaning service ini diberi waktu cuti oleh majikannya hingga seminggu. Kalau melanggar, dendanya RM 30 per hari.

        Dalam sebulan, dia bisa mendapatkan RM 1.200.

        Eny termasuk kreatif karena yang bersangkutan juga menjadi “dorship” atau agen busana muslim salah satu ustazah asal Indonesia. Dia juga mengikuti PayTren yang dikelola Ustaz Yusuf Mansyur dan sering mendapat order petugas kebersihan kalau ada artis Indonesia pentas di Malaysia.



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar