Penanganan Cepat Tim RS Mitra Keluarga Waru

Posted on

JawaPos.com – Berevolusinya penyakit jantung cukup membuat golongan profesional merasa gelisah. Salah seorang yang merasakannya adalah dr. Richardus SpJP. Staf ahli bagian intervensi dan penanganan pasien jantung di cath lab RS Mitra Keluarga ini menyebutkan bahwa kini penderita jantung koroner semakin muda.

“Saya pernah lakukan tindakan intervensi untuk penyakit jantung, paling muda pada penderita usia 30 tahun,’” ujar dokter lulusan S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali tersebut. Menurut dr. Richardus, gejala penyakit jantung kini sudah berubah setidaknya 5–10 tahun belakangan.

Pada era sebelum gadget, tanda-tanda serangan jantung bersifat homogen. Namun, sejak era gadget, gejalanya turut berevolusi. “Kini bisa rasa nyeri di mana pun, seperti bagian punggung atau bahkan rasa tertusuk di area perut yang biasanya diasosiasikan dengan lambung, ternyata bisa jadi itu justru jantung,”imbuh dr. Richardus.

Jumlah penderita jantung pun meningkat tiap tahun. Menurut Richardus, selain genetik atau kelainan pada jantung, pola hidup tak sehat jadi pemantiknya. “Di RS Mitra Keluarga, seluruh pasien jantung diarahkan ke cath labkami, yang telah berdiri selama delapan tahun,” ujar alumnus S-2 Kedokteran Unair tersebut.

Dokter Richardus menyebutkan bahwa kemungkinan pasien serangan jantung selamat bisa jadi sangat tinggi dan sangat rendah, bergantung kepada prime timeatau waktu pascaserangan. “Maksimal 90 menit, pasien sudah harus ada di sini, didiagnosis, dan dilakukan intervensi. Lebih dari itu, survival rate(tingkat keselamatan) pasien akan menurun dengan sendiri,” imbuh dr Richardus.

Baca Juga :  Ingin Sperma Sehat, Kurangi Rokok dan Alkohol

Di RS Mitra Keluarga, tingkat keselamatan mereka yang terkena serangan jantung dan selamat berada pada angka 90 persen. “Serangan jantung diakibatkan oleh gumpalan lemak yang menyumbat pembuluh darah. Jadi, awalnya yang harus kita lakukan adalah diagnosis, sekaligus mencari culprit arteryatau pembuluh darah yang tersumbat,” imbuh dr Richardus yang biasa melakukan tindakan intervensi dengan pendampingan dokter anestesi serta 3–5 tenaga medis ahli.

Prosedurnya pun butuh keterampilan super, mulai pemasangan kateter hingga pemetaan aliran pembuluh darah pasien dengan X-rayyang dipantau lewat monitor. “Setelah terlokasi, kami lakukan stentingatau pemasangan ringuntuk melebarkan pembuluh darah. Ringkami sebesar 0,1 mikron dan diimpor dari Eropa. Keunggulannya, sekali pasang, tak perlu diganti, karena Ring tersebut akan menyatu dengan pembuluh darah, bukan seperti ring klasik yang bersifat asing untuk tubuh,” ujar dr. Richardus.

Bagi mereka yang memiliki pembuluh darah tersumbat dan sumbatannya telah mengeras, RS Mitra Keluarga menggunakan balon mikro. Perjalanan balon yang dikaitkan pada wire steril akan berakhir setelah balon mengembang di depan gumpalan dan berhasil menghancurkan gumpalan yang mengeras.

Baca Juga :  Tak Libur Saat Lebaran, Pak Kadis Standby Demi Layanan Kesehatan

RS Mitra Keluarga yang termasuk RS senior di Surabayajuga jadi rujukan para penderita jantung. Cath labRS Mitra Keluarga menampung sekitar 15 pasien per bulan. Selain lolos sertifikasi rumah sakit secara nasional, seluruh staf ahli RS Mitra Keluarga tersertifikasi dan dikirim untuk studi lanjutan secara bergantian.

“Selain menuntaskan intervensi dan menyelamatkan nyawa pasien, kami mengobati pembuluh darah yang terlukai akibat penyumbatan sebelumnya,” ujarnya. Menurut dr. Richardus, selain tak ribet dan berteknologi canggih, intervensi jantung plus pemulihannya di RS Mitra keluarga terbilang singkat. 

“Mulai diagnosis hingga intervensi dilakukan tak sampai 90 menit. Setelah itu, pasien dirawat di ICU selama satu hari dan rawat inap 1–2 hari, sebelum kembali ke keluarga masing masing,” tutupnya. 

(adv/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar