Penguatan Suku Bunga Bukan Solusi Tunggal Atasi Kuatnya Dolar AS

Posted on

JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) membuat keputusan yang cukup menarik pada Jumat (29/6) kemarin dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Itu artinya, dalam dua bulan ini bank sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 100 bps.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira kenaikan suku bunga ini belum sekuat sentimen faktor global. Meskipun di atas ekspektasi pelaku pasar, langkah tersebut dinilai belum bisa menguatkan rupiah sesuai target di bawah Rp 14 ribu-an.

“Ini terlihat dari rupiah yg masih melemah di level 14.325 pada penutupan Jumat kemarin,” ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (30/6)

Baca Juga :  Beli Emas Antam Mumpung Harga Turun Rp 4 Ribu per Gram

Alih-alih bisa menjadi solusi utama, langkah unuk menaikkan suku bunga acuan dianggap belum bisa menopang penguatan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Kondisi ini juga menjadi peringatan dini bahwa bunga acuan tidak bisa dijadikan solusi tunggal penguatan kurs rupiah. Harus ada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan tepat sasaran,” jelas dia.

Bhima mencontohkan, salah satu kebijakan fiskal yang bisa ditempuh oleh bank sentral adalah membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan memperbanyak insentif bagi sektor penguatan devisa. Harapannya, langkah tersebut bisa menjadi pondasi kuat dalam menopang stabilisasi nilai tukar.

Baca Juga :  Maskapai Bertarif Rendah Marak, Boeing Kebanjiran Order Pesawat

“Jadi bentuknya harus lintas sektoral shingga dampak penguatan rupiah langsung terasa,” tandasnya.

(hap/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar