Perang AS-Tiongkok Diprediksi Picu Rupiah Kembali Terkoreksi

Posted on

JawaPos.com – Setelah sentimen pertemuan G-7 telah usai, Rupiah kini dihadapkan pada sentimen potensi kembali terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, AS berencana mengenakan tarif 10 persen terhadap sejumlah barang-barang impor Tiongkok senilai USD200 miliar sebagai lanjutan dari pengenaan barang-barang impor Tiongkok senilai USD50 miliar.

Maka, permintaan akan sejumlah mata uang safe heaven diperkirakan akan kembali meningkat sehingga dikhawatirkan Rupiah akan cenderung kembali tertekan.

“Waspadai jika potensi pelemahan kembali terjadi. Adapun Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran support 13.930 dan resisten 13.914,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/6).

Baca Juga :  Rupiah Terpuruk, Sempat Rp 14.370 per Dolar, BI Naikkan Suku Bunga

Reza menjelaskan, laju Rupiah mengakhiri pekan sebelum libur dengan pelemahan. Tampaknya pelaku pasar mencoba mengamankan posisi untuk antisipasi kondisi selama libur Lebaran.

Di sisi lain, pergerakan USD dan JPY juga sedang mengalami kenaikan seiring permintaan kedua mata uang tersebut yang sedang tinggi.

“Adanya pertemuan G-7 yang memicu kekhawatiran membuat permintaan atas mata uang safe haven meningkat setelah adanya twitter Presiden Trump yang menyerang pemimpin Kanada dan Uni Eropa sehingga berimbas pada pergerakan Rupiah yang kian terdepresiasi,” pungkasnya.

Baca Juga :  Masyarakat Harus Pintar Pilih Program KPR

(mys/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar