Pertimbangan Perempuan Modern Lebih Suka Menikah di Usia 30-an

Posted on

JawaPos.com – Cantik, mandiri, dan sukses. Itulah gambaran kaum hawa di era modern saat ini. Namun ketika ditanya, kapan menikah? Mereka semua masih enggan meski sudah hampir memasuki usia 30 tahun. Apa sebab?

Dilansir dari Pop Sugar, Sabtu (23/6), banyak pertimbangan yang menjadi alasan perempuan menunda untuk melepas masa lajang sekalipun mereka sudah berumur. Beberapa faktornya adalah asyik meniti karir, tak siap punya anak, atau mengurus suami menjadi salah satu alasannya.

Sedikitnya ada belasan alasan yang menjadi dasar perempuan masih enggan untuk menikah. Dan mereka menganggap sebaiknya menikah di usia 30-an setelah semua ambisi sudah tercapai.

Di usia 30-an, perempuan sudah banyak mengalami asam garam dalam asmara. Sudah banyak berkencan dengan banyak pria, sehingga akan lebih memilih yang terbaik.

Pernikahan akan Lebih Ramai

Ada juga yang alasannya ingin pesta besar-besaran saat menikah. Maka semakin tua usia kita, akan semakin luas pergaulan. Dan pesta pun akan lebih ramai.

Tak pernah merasa minder bahwa sudah ditinggal gerbong oleh teman-teman lainnya yang duluan menikah. Sebab, saat muda justru dihabiskan dengan kesibukan yang dinamis.

Perempuan yang masih sendiri akan lebih leluasa menghabiskan akhir pekannya. Bisa kumpul dengan teman atau melakukan spa, bahkan pergi travelling.

Nanti saja ketika sudah menua, barulah merasakan sepi. Itu saatnya untuk mencari pendamping hidup untuk bisa mendampingi di masa tua.

Punya banyak waktu untuk memilih calon pasangan terbaik. Hal itu bisa diselaraskan dengan keinginan orang tua.

Berpesta dan berkumpul dengan teman-teman ke mal justru lebih asyik saat lajang. Saat punya suami, justru harus pulang lebih awal.

Semakin tidak memedulikan pernikahan atau kapan akan menikah, maka akan semakin fokus dengan pekerjaan. Sehingga pekerjaan justru lebih sukses.

Bisa melihat pengalaman rumah tangga teman yang tidak lebih bahagia dengan keadaan yang diraih kaum hawa itu sendiri. Maka hal itu bisa menjadi pelajaran berarti.

Punya banyak waktu keliling atau jalan-jalan baik sendiri atau dengan teman-teman. Tak perlu repot membawa botol ASI atau pompanya.

Menunggu sampai hati siap. Jangan mendengarkan desakan orang lain apalagi karena terpaksa.

(ika/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar