Ratusan Anak Alami Gangguan Kesehatan di Lima Desa di Sukoharjo

Posted on

SUKOHARJO – Menindaklanjuti pengaduan warga kecamatan Nguter, kabupaten Sukoharjo terkait pencemaran udara yang berasal dari PT RUM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurunkan tim melakukan pengawasan. Tim yang diturunkan terdiri dari Retno Listyarti (Komisioner Bidang Pendidikan) dan Susianah (Komisioner Bidang Sosial dan Anak dalam situasi darurat).

KPAI mendatangi lokasi pemukiman penduduk yang letaknya paling dekat dengan lokasi pabrik, hanya radius sekitar 500 meter, yaitu di Dukuh Tawang Krajan, desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Adapun desa terdampak di Sukoharjo adalah Desa Kedungwinong, Desa Plesan, Desa Gupit, Desa Celep dan Desa Pengkol.

Saat ini, pabrik sudah mendapatkan sanksi administrasi dari Bupati akibat pencemaran yang ditimbulkan dengan penghentian operasi sementara selama 8 bulan terhitung sejak Januari 2018. Menurut Susianah, Komisioner Bidang sosial karena hanya diberhentikan sementara sambil menunggu alat peredam bau, warga menjadi trauma dan ketakutan jika pabrik tersebut beroperasi kembali.

“Jika perusahaan itu beroperasi kembali, warga trauma karena akan mengalami kembali gangguan pernafasan dan kesehatan lainnya akibat proses produksi pabrik tersebut. Kekhawatiran ini yang menggerakan warga terus berjuang kemana-mana agar pabrik tersebut dicabut ijinnya dan tidak beroperasi kembali,” ujar Susianah.

Baca Juga :  Trikarya Pembangunan, Bukan Sekadar Janji NH-Aziz

KPAI mendapatkan data jumlah anak-anak yang terdampak pencemaran diantaranya dari Dukuh Ngarapah mencapai 48 anak-anak (14 diantaranya masih balita), Dukuh Tegalrejo sebanyak 27 anak-anak (10 diantaranya masih balita), dan Dukuh Tawang Krajan sebanyak 27 anak-anak (3 diantaranya usia balita). Ketiga dukuh tersebut masuk wilayah Kecamatan Nguter, kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah.

“Data tersebut menunjukkan bahwa anak usia sekolah yang terdampak cukup banyak. Mereka selalu menggunakan masker ke sekolah, begitupun para gurunya. Jika bau busuk menyengat tidak mampu diterima tubuh anak-anak, maka anak jatuh sakit dan tidak bisa bersekolah. Dampaknya, nilai anak-anak menurun karena sering tidak masuk sekolah dan dirumah juga tidak bisa belajar karena terganggu oleh bau busuk,” urai Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan.

Retno menambahkan, KPAI mewawancarai ibu dan 2 anak perempuannya yang masih berusia TK dan SD, memiliki sensitivitas terhadap bau sehingga selama bau menyerang maka kedua anak itu akan muntah terus, diisi air pun akan dimuntahkan. Akibatnya keduanya mengalami demam, sampai harus diungsikan jauh ke rumah keluarga.

Baca Juga :  Tidak biaya jenazah TKI tertahan di Malaysia

Beberapa sekolah yang terdampak pencemaran sehingga proses belajar mengajarnya terganggu diantaranya, yaitu SDN 02 Desa Plesan, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kedung Winong, TK Aisiyah, dan SMP Achmad Dachlan Boarding School. Sempat ada inisiatif salah satu sekolah untuk melakukan pertemuan dengan berbagai sekolah terdampak membahas bau menyengat yang disebabkan oleh beroperasinya pabrik serat sintesis milik PT RUM, namun tidak semua perwakilan sekolah hadir.




Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar