REFLEKSI RAMADAN (11): Mubalig Kota 1 Judul 30 Masjid, Mubalig Desa 65 Judul 1 Masjid

Posted on

dok.tribun

Wahyuddin Halim 

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Namanya Zainal. Perawakannya kecil tapi suaranya bariton. Santri kelas tiga MTs Putra As’adiyah ini baru berusia 14 tahun.

Siang itu, dengan percaya diri, dia tampil berkhotbah Jum’at dalam bahasa Bugis yang fasih di satu masjid di Kampiri, Wajo. Sejak sepekan memasuki Ramadan, dia sudah menyampaikan masing-masing tujuh topik ceramah tarawih dan ceramah subuh di masjid yang sama.

Zainal adalah satu di antara sekitar 400-an anggota tim mubalig Ramadan 1433 (Juli 2012) dari Pondok Pesantren As’adiyah Pusat di Sengkang. Setiap Ramadan, pesantren yang didirikan AGH Muhammad As’ad (1907-1952) pada 1930 ini mengirim ratusan mubalig ke berbagai pelosok nusantara atas undangan warga setempat.

Pengundang umumnya warga perantau Bugis, khususnya, di kawasan timur Indonesia seperti Merauke, Poso, beberapa kabupaten di Kaltim, Jambi dan Riau, selain sejumlah tempat di Sulsel dan Sulbar.

Tim terdiri atas pimpinan, guru, santri, mahasiswa dan alumni lembaga pendidikan binaan Pesantren As’adiyah. Mulai dari santri kelas tiga MTs, Madrasah Aliyah, mahasiswa STAI (sekarang IAI) hingga mahasantri Ma’ahad Aly (pengkaderan ulama).

Selama Ramadan setiap mubalig tinggal di rumah penduduk setempat, seperti imam desa atau ketua pengurus masjid.

Di masa lalu, setiap mubalig berceramah hanya di satu masjid sebulan penuh. Sekarang, para mubalig dalam satu kecamatan digeser ke masjid berbeda setiap lima atau sepuluh hari untuk menghindari kejenuhan.

Selain ceramah tarawih dan subuh, setiap mubalig harus menyampaikan khotbah Jumat selama Ramadan dan khotbah idulfitri.

Yang ditugaskan di wilayah Sulsel dan Sulbar biasanya dijemput oleh pengurus masjid atau kepala desa. Yang ke wilayah luar Sulsel harus berangkat sendiri dengan moda transportasi yang sesuai, tentu atas biaya pengundang.

Tradisinya, seusai bertugas, para mubalig ini diantar oleh jemaah masjid setempat kembali ke kampung halaman masing-masing jika berlokasi di Sulsel. Terkadang pengantar menggunakan belasan mobil. Sesuai tingkat kesukaan mereka pada performa sang mubalig.

Jamaah juga selalu menyertakan oleh-oleh berupa hasil bumi setempat: beras, jagung, palawija, telur, buah-buahan, dsb. Jelas, ada juga semacam honorarium dari pengurus dan jamaah masjid yang jumlahnya bisa sampai belasan juta rupiah.

Bagaimana tradisi unik dari salah satu pesantren tertua di Sulsel ini bermula, perlu penjelasan panjang.

Dalam riset saya, sekurangnya para perantau Bugis di luar Sulsel memilih mengundang mubalig As’adiyah karena: (1) hubungan kekerabatan atau kesalingkenalan antara perantau dan warga komunitas pesantren; (2) kepercayaan mereka pada otoritas pengetahuan agama warga komunitas pesantren ini; dan (3) karena kerinduan mereka mendengarkan ceramah dalam bahasa Bugis yang memang cukup dikuasai oleh para mubalig pesantren tersebut.

Bisa dibayangkan tantangan para mubalig kelana ini. Harus berceramah dengan topik berbeda tiap malam di masjid yang sama selama 30 hari. Jauh lebih mudah menjadi mubalig Ramadan di kota besar seperi Makassar. Dengan hanya dua atau tiga topik ceramah andalan, seorang mubalig sudah dapat berceramah setiap malam di masjid-masjid berbeda selama sebulan penuh.(*)



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar