REFLEKSI RAMADAN (21): Periode Turun Mesin Jasmaniah dan Coffee Break Spiritual

Posted on

Oleh Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kini Ramadan memasuki penggalan waktu sepuluh hari terakhir.

Nabi Muhammad SAW dikabarkan selalu melakoni itikaf selama periode ini dan menganjurkan kaum Muslim melakukannya pula. Itikaf adalah berdiam seklusif di dalam masjid, menapaki berbagai ritual demi mendekatkan diri kepada Allah.

Mencermati segenap tuntutan ritualnya, Ramadan dapat dikatakan sebagai bulan kontemplasi. Kontemplasi adalah laku tirakat atau meditasi di mana seseorang berusaha melampaui anggitan rasional dan citra mental demi merasakan pengalaman langsung dengan Tuhan.

Lewat laku kontemplatif, seseorang dimungkinkan melakukan retrospeksi, introspeksi, dan refleksi spiritual yang dahsyat. Sesuatu yang terlalu mewah dilakukan secara intens di luar bulan Ramadan.

Setelah sebelas bulan memburu properti, prestise dan prestasi duniawi, Ramadan datang menawarkan diri sebagai semacam jeda spiritual. Selama ini, peran puasa sebagai periode ‘turun mesin’ jasmaniah lebih populer daripada sebagai ‘coffee break’ spiritual.

Kontemplasi menjadi ritual dasar dalam setiap agama. Suatu fase yang wajib dilalui dalam rute pengelanaan spiritual yang panjang dan berat. Nabi SAW pernah bertitah, “Bertafakkur satu saat lebih baik daripada beribadah tujuh puluh tahun.”

Sebelum menerima misi kerasulan, Nabi SAW menjalani hidup kontemplatif selama beberapa tahun di Gua Hira. Alquran (3:191 & 30:8) menyebut kontemplasi (tafakkur) sebagai upaya merenungi dan memikirkan eksistensi alam semesta dan diri sendiri.

Hidup kontemplatif selalu mensyaratkan puasa dalam durasi dan gradasi beragam. Sudah jadi tema klasik ceramah Ramadan, bahwa level puasa terendah, sekadar berpantang makan, minum dan seks.

Di level lebih tinggi, berpantang menggunakan panca indera dan akal kecuali pada hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar