REFLEKSI RAMADAN (23): Agara Agama Para Pencemburu Tidak Jadi Pelecut Konflik

Posted on

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – F Schuon, metafisikawan Muslim dan sufi besar abad ke-20, pernah berdendang, “Oh, alangkah saling membencinya kita hanya karena memperebutkan cinta Tuhan.”

Jadi, pada dasarnya, manusia itu posesif dan pencemburu, terutama jika itu berkaitan dengan agama.

Pemeluk agama tidak rela ada pihak lain mendaku mendapatkan pula kecintaan dari Tuhan yang sama. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa seringkali muncul kebencian dan konflik berlatar-belakang agama.

Dalam studi agama, ini biasa disebut klaim kebenaran (truth claim). Setiap pemeluk agama percaya, hanya agama mereka yang benar. Tuhan hanya berpihak pada dan mencintai mereka. Bukan kelompok penganut agama lain.

Mereka juga yakin hanya mereka yang akan masuk surga. Penganut agama berbeda akan masuk ke dalam neraka. Mereka tidak berpikir, alangkah sepi, atau menakutkannya, jika kelak di surga hanya mereka sendirian.

Sampai titik ini, tentu tidak perlu ada masalah. Tanpa klaim kebenaran, agama justru kehilangan makna dan relevansinya.

Masalah mulai muncul jika satu kelompok pemeluk agama memandang ketunggalan agama dan umat beragama sebagai keniscayaan yang harus diwujudkan. Mereka menolak pluralitas agama sebagai keniscayaan sejarah dan skenario Tuhan.

Maka, mereka lantas lebih menguras tenaga dan intelektualitas untuk mencari-cari kesalahan atau mendeligitimasi prinsip-prinsip agama lain. Ujung paling ekstrim dari pandangan seperti ini, memaksa orang lain memeluk agama yang sama. Ini tentu melecut terjadinya konflik.

Allah sudah mengantisipasi ini: “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja)” (42:8). Artinya, Allah sengaja menjadikan umat di dunia ini beragam, termasuk beragam agama. Kenapa? Allah sendiri menjawab: supaya ada kompetisi yang sehat dalam melakukan kebaikan (fastabiqul khairat).

Karena itu, lebih baik setiap pemeluk agama mengarahkan tenaga mengoptimalkan manfaat agama sendiri demi kebaikan diri, orang lain, dan semesta (rahmatan lil ‘alamin). Bukankah agama itu ada demi manusia, bukan demi Tuhan.

Kembali kita kutip F Schuon “Agama apa pun yang dianut seseorang, asal konsisten, niscaya membawa dia kepada keselamatan”.(*)



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar