REFLEKSI RAMADAN: Undangan Puasa dari Paslon Susul Menyusul

Posted on

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropoloh Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Dalam masyarakat kita, ritus-ritus Ramadan lebih banyak dijalani secara sosial-komunal daripada personal-individual. Spirit Ramadan lebih identik dengan spirit Ramai deh!

Dalam keramaian, yang lebih menonjol unsur performatif, eksebisi, seremoni, transaksi, kumpul-kumpul, makan-makan, main-main, kuantitas dan kecepatan.

Tentu saja, masih ada orang-orang yang tetap berupaya mencari makna dan hikmah Ramadan secara soliter dan khusyuk. Misalnya, lebih memilih salat tahajud di rumah pada seperdua malam daripada salat tarawih ramai-ramai di masjid di awal malam.

Niat dan pilihan cara menjalani setiap ritus Ramadan menentukan pengaruh akhirnya dalam pribadi setiap orang. Nabi SAW bersabda, “Amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yg diniatkan”.

Mereka yang niatnya sekedar mengakumulasi secara kuantitatif dan matematis pahala ibadah (tarawih, tadarus, dan sebagainya), tentu kelak akan menemukan tabungan pahala di akun bank akhiratnya membludak setelah Ramadan.

Walaupun, selepas itu, hidup mereka back to business as usual. Sifat dan prilaku tidak mengalami perubahan berarti.

Yang membayangkan bisa menikmati berbagai jenis makanan lezat, tentu akan cermat memantau undangan buka puasa bersama di masjid megah, rumah mewah para pengusaha dan penguasa, atau tempat-tempat pembagian makanan gratis selama buka puasa dan sahur.

Menjelang perhelatan politik tahun ini, undangan berbuka puasa bersama dari para paslon kontestasi pilkada serentak tentu akan susul-menyusul.

Bagi remaja, Ramadan bisa jadi alasan ngeluyur ke luar rumah di malam hari. Walau, tetap memakai peci atau mukena. Dengan niat begitu, yang akan didapatkan hanya kesenangan begadang atau saat bertemu teman sebaya atau pacar.



Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar