Sebelum Pulang ke Kampung Halaman, Pemudik Harus Perhatikan Tips Ini

Posted on

JawaPos.com – Tradisi mudik lebaran menjadi momen penting yang tidak boleh dilewatkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Biasanya, euforia mudik lebaran akan berdampak pada kondisi jalanan. Jika tidak hati-hati dan mempersiapkan diri, bisa-bisa rencana mudik kita jadi berantakan.

Nah, kali ini JawaPos.com akan merangkum sejumlah tips mudik bagi masyarakat yang ingin pulang ke kampung halamannya masing-masing.

1. Pastikan kondisi fisik kendaraan dan kondisiku fisik pribadi dalam kondisi prima.

Tips mudik lebaran 2018. (Rofiah Darajat/Jawapos.com)

Menjaga kondisi fisik kendaraan maupun pribadi tentu menjadi hal penting yang perlu dicermati. Sebab, jika salah satu kondisi itu bermasalah, bisa-bisa rencana mudik yang sudah disusun dengan matang jadi berantakan.

“Jangan sampai kalau tidak siap di dalam perjalanan misalnya kerusakan terhadap kendaraan kita akan menghambat laju kita. Padahal itu laju kendaraan sedang banyak-banyaknya,” kata Corporate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Dwimawan Heru kepada JawaPos.com beberapa waktu lalu.

2. Jangan mampir ke Rest Area jika tidak perlu

Kondisi rest area pada saat mudik lebaran tentu tidak akan sama dengan kondisi normal. Biasanya, kepadatan rest area akan meningkat pesat seiringan dengan pelonjakan volume kendaraan di ruas tol.

Oleh sebab itu, disarankan agar tidak mampir ke rest area jika tidak dalam keadaan genting. Persiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan saat perjalanan mudik selama masih bisa disiapkan sebelum berangkat.

“Jadi pastikan perbekalan yang cukup pastikan juga kendaraan BBM yang cukup kalau tidak terpaksa. Karena rest area kondisi di luar normal. Kayak di Jakarta-Cikampek, dari 70 ribu sampe 112 ribu tahun lalu. Yang namanya Semarang dari 16 ribu sampai 40 ribu di Tol Manyaran,” jelas Heru.

Baca Juga :  OJK Periksa Pefindo Terkait Gagal Bayar MTN SNP Finance

3. Pastikan saldo uang elektronik cukup

Kebijakan transaksi non tunai di jalan tol sudah 100 persen berlaku. Itu artinya, bayar tarif tol tidak bisa lagi menggunakan uang tunai.

Untuk itu, penting bagi pemudik untuk memiliki uang elektronik. Jangan lupa, pastikan saldo dalam uang elektronik cukup sampai dengan tempat tujuan.

“Kalau Jakarta – Surabaya sekitar Rp 350 ribu sekali jalan. Kalau pulang pergi isi full saja, sekitar Rp 700 ribu.
Untuk top up jangan terlalu mengandalkan top up tunai di gerbang. Uang elektronik adalah produk perbankan. Kita selama ini terpaku kepada channel ATM, minimarket, padahal banyak perbankan punya fasilitas mobile banking yang bisa diisi dari mana saja,” tuturnya.

4. Selalu perhatikan kondisi jalan

Dengan kemajuan teknologi saat ini, akses informasi sangat mudah didapatkan. Kondisi itu tentu juga perlu dimanfaatkan oleh para pemudik untuk lebih mengetahui kondisi jalan dengan memanfaatkan akses digital.

Ada beberapa aplikasi maupun layanan yang telah menyediakan informasi terbaru soal kondisi jalan. Sebut saja Google Maps, Waze dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Jasa Marga selaku operator jalan tol juga memiliki aplikasi yang dapat memonitor kondisi jalan.

Aplikasi bernama JM Care itu disebut sangat akurat dalam melihat titik-titik mana saja yang tengah mengalami kepadatan. Oleh karena itu, mengetahui kondisi jalan juga penting bagi para pemudik. Biar pulang kampungnya jadi lancar tentunya.

Baca Juga :  Tiga Sanksi Bagi Perusahaan Jika Terlambat Memberikan THR

“Itu aplikasi embedded Google Maps di dalamnya. Dari situ kita bisa lihat apakah mau lewat arteri atau tol. Jangan 100 persen mengandalkan tol. Karena punya keterbatasan kapasitas. Jangan seperti 2016, di tol umpel-umpelan tapi di arterinya relatif lebih lancar. Karena waktu itu euforia tersambung sampai Brebes,” terang Heru.

5. Patuhi aturan

Nah, ini yang tidak kalah penting untuk diperhatikan para pemudik. Ketidakpatuhan terhadap aturan maupun arahan petugas tol akan membuat kesemrawutan di dalam ruas tol. Hal ini tentu akan menghambat perjalanan.

Untuk itu, tidak ada salahnya mematuhi peraturan, rambu maupun arahan dari petugas. Karena, kesuksesan pelaksanaan mudik lebaran tidak semata hanya peran dari pemerintah, melainkan juga dari masyarakat itu sendiri.

“Ada survei tentang mudik tahun lalu bahwa publik menganggap pelaksanaan mudik lebih baik. Hanya masyarakat tidak berdisiplin. Kami himbau disiplin di jalan. Jangan memaksa,” tandas Heru.

(hap/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar