Stabilkan Nilai Tukar Rupiah Jadi Prioritas Utama Perry Warjiyo

Posted on

JawaPos.com – Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi fokus jangka pendek Perry Warjiyo, gubernur baru Bank Indonesia (BI). Sejak Februari 2018, volatilitas rupiah terhadap dolar AS (USD) memang cukup tinggi.

Pekan ini rupiah sempat menyentuh level Rp 14.200 dan melemah 4,895 persen sejak Januari 2018 Kemarin (24/5) kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan rupiah bertengger di posisi Rp 14.205. Sedangkan di pasar spot Bloomberg, rupiah berada di level Rp 14.133.

“Prioritas saya di BI dalam jangka pendek adalah memperkuat langkah-langkah menstabilkan nilai tukar,” ujar Perry seusai pelantikan sebagai gubernur BI kemarin. Perry menggantikan Agus Martowardojo yang masa jabatannya habis. Perry akan menjabat gubernur BI hingga lima tahun ke depan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Arah kebijakan yang diambil Perry nanti adalah prostabilitas untuk jangka pendek dan pro pertumbuhan untuk jangka panjang. Dalam upaya stabilisasi, BI telah menaikkan suku bunga BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRRR) serta melakukan intervensi di pasar surat berharga negara (SBN) dan valuta asing (valas).

Sejak awal tahun, BI telah menyerap SBN milik asing sebanyak Rp 50 triliun di pasar sekunder. Ke depan BI tidak hanya melakukan penyesuaian suku bunga acuan dan mengintervensi pasar.

Perry mengatakan, ada instrumen kebijakan lain yang akan dikerahkan agar ekonomi mengarah pada pertumbuhan. Di an­taranya, relaksasi kebijakan makroprudensial untuk mendorong sektor perumahan. Hal tersebut rencananya dilakukan dengan perubahan ketentuan loan-to-value (LTV) sehingga uang muka pembelian rumah bisa lebih terjangkau. BI juga akan mempercepat pendalaman pasar keuangan, terutama mendukung sektor infrastruktur. “Itu dilakukan dengan penerbitan sekuritas untuk pembiayaan obligasi di sektor pembangunan infrastruktur,” lanjutnya.

Selain itu, Perry akan mendorong pengembangan sistem pembayaran dan akselerasi ekonomi syariah. Dia telah berkoordinasi dengan pemerintah untuk pembahasan kebijakan-kebijakan tersebut dan akan tetap menjaga independensinya.

Masyarakat sebaiknya mengendalikan ekspektasi terhadap nilai tukar yang melemah. Sebab, pengusaha sempat beberapa kali berekspektasi bahwa rupiah akan melemah sampai Rp 15 ribu, Rp 16 ribu, dan mengeluhkan mahalnya transaksi swap. “Setelah ini kami akan adakan pertemuan dengan pelaku usaha agar tidak ada misinformasi,” ujarnya.

Nilai tukar rupiah tertekan sejak awal Februari karena tekanan eksternal. Di antaranya, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga empat kali tahun ini serta kenaikan imbal hasil (yield) US treasury yang sempat tembus 3,11 persen. Namun, dari sisi domestik, inflasi dan pertumbuhan ekonomi masih tergolong baik. Hanya, defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) yang 2,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I diperkirakan membesar hingga kuartal II.

Ekonom Indef Bhima Yudistira menambahkan, Perry sebaiknya punya respons yang lebih cepat mengenai penyesuaian suku bunga. Sebab, sebelumnya BI dinilai terlalu lama merespons pelemahan rupiah. Kemudian, jika rupiah melemah hingga Juni karena tekanan The Fed, pemerintah dapat mendesak pembuatan Perppu UU Lalu Lintas Devisa No 24 Tahun 1999.

“Poin perppu adalah mewajibkan eksporter untuk menahan devisa hasil eskpor minimum 6 bulan di bank domestik. Tujuan­nya, memperkuat devisa ekspor. Cara ini efektif untuk meredam pelemahan nilai tukar di Thailand,” urainya.

(rin/wan/c10/oki)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar