Strategi Xiaomi Bikin Netizen Murka, Katanya Pembodohan

Posted on

Lalu apa yang membuat warganet memberi komentar bernada nyinyir pada pabrikan asal Tiongkok itu? Usut punya usut, netizen kesal dengan brand yang digawangi Lei Jun itu. Bukan tanpa alasan, kekesalan mereka terjadi gara-gara produk Xiaomi langka di pasaran.

Pantauan JawaPos.com pada akun Instagram resmi mereka setidaknya ada tiga foto soal kisi-kisi peluncuran smartphone terbaru. Ketiga foto tersebut merupakan teaser atau bocoran soal produk terbaru. Xioami diduga akan meluncurkan Xiaomi Redmi S2 yang meluncur beberapa waktu lalu di negara asal mereka Tiongkok. Redmi S2 sendiri disebut sebagai versi murah dari Xiaomi Redmi Note 5 yang meluncur beberapa waktu lalu.

komentar netizen menanggapi postingan peluncuran Xiaomi Redmi S2
(Instagram/xiaomiindonesia)

Pada postingan tersebut juga menyoal tentang sistem penjualan ponsel tersebut. Xiaomi memang kerap menggunakan sistem penjualan cepat alias flash sale di berbagai platform belanja online, meskipun tersedia juga penjualan offline melalui gerai penjualan Xiaomi.

Namun yang membuat followers Xiaomi di Instagram kesal adalah karena ketersediaan barang yang tidak jelas. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan perihal sulitnya mendapat produk smartphone Xiaomi. Hal tersebut dialami calon pembeli mereka yang kesulitan mendapatkan produk impian mereka baik melalui jalur online maupun offline.

Parahnya, banyak komentar yang menyebut bahwa apa yang dilakukan Xiaomi adalah sebuah pembodohan. Mereka menyebut apa yang sering Xiaomi sampaikan soal harga dan ketersediaan kerap bersebrangan dengan kenyataan di lapangan.

Dari sekian banyak komentar netizen yang menjadi pengikut akun Instargarm Xiaomi bahkan ada yang sampai berkata kasar. “S: Sontoloyo. Barang nggak ada, sekalinya ada muahal. Pembodohan itu namanya,” tulis akun @ryan_el_toro.

Lainnya, ada juga yang yang menuliskan hal serupa. Merasa dibodohi, akun @tholibtomorrow menuliskan, “S : Sinting. Sebab gara-gara nungguin barang gaib yang nggak muncul-muncul kan akhirnya jadi sinting,” ucapnya.

Terakhir, ada @kurniawanagam_ yang menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh Xiaomi mampu membuat konsumennya pindah ke lain hati. “Awalnya suka sama Xiaomi, karena barangnya susah jadi kelain hati. Mending Samsung,” tuturnya.

Kebanyakan komentar memang bernada sindiran. Sebab menurut follower mereka lebih baik Xiaomi memperbaiki stok barang ketimbang terus merilis produk baru yang katanya murah namun langka di pasaran. Xiaomi dianggap memanfaatkan hype di pasaran untuk popularitas mereka saja tanpa memikirkan konsumen yang benar-benar ingin membeli produk mereka.

Sistem penjualan flash-sale melalui platform belanja online dianggap sebagai gimmick yang dilakukan Xiaomi. Selain sulit untuk mendapatkan produk yang diinginkan konsumen, soal harga di lapangan juga kerap ditemui perbedaan yang signifikan dari apa yang Xiaomi sampaikan waktu peluncuran. Redmi 5A misalnya.

Xiaomi Redmi 5A waktu peluncuran diumumkan dengan banderol harga Rp 999 ribu dengan sistem flash sale dan Rp 1,1 jutaan dalam penjualan reguler. Kenyataannya, Xiaomi Redmi 5A menjadi langka dan sekali pun ada dijual dengan harga lebih mahal dari waktu pengumuman. Bahkan ada yang mencapai hingga dua kali lipat lebih mahal dari harga sebenarnya.

Hal itulah yang membuat konsumen mulai kesal dengan Xiaomi. Gara-gara hal itu, ramai di jagat maya soal perbincangan smartphone gaib. Mengapa gaib? karena tidak terlihat dan susah ditemui layaknya hal-hal mistis.

JawaPos.com mencoba melakukan konfirmasi kepada pihak Xiaomi Indonesia. Sayangnya, Xiaomi Indonesia belum mau memberikan tanggapannya terkait smartphone gaib dan susahnya mendapatkan smartphone Xiaomi di pasaran. Pihak Xiaomi Indonesia meminta JawaPos.com untuk menunggu hingga acara peluncuran smartphone terbaru Xiaomi pada 22 Mei mendatang.

Di sisi lain, soal sistem penjualan flash-sale memang bukan hanya Xiaomi yang melakukannya. Banyak juga vendor smartphone lain yang melakukan hal demikian, Asus misalnya. Asus juga kerap melakukan hal serupa dan masalah yang dihadapi pun hampir sama, yakni soal jaminan ketersediaan.

Ditemui JawaPos.com usai peluncuran lini smartphone terbarunya, Regional Director Asus Asia Tenggara, Benjamin Yeh memberikan pandangan dan opininya soal sistem penjualan flash-sale dan topik smartphone gaib.

Benjamin menyebut bahwa hal tersebut mungkin terjadi karena demand atau permintaan yang tinggi. “Mungkin karena permintaan yang tinggi,” katanya singkat di kepada JawaPos.com di Jakarta, Kamis (17/5).

Dia juga menyebut bahwa soal terbatasnya unit di pasaran yang menyebabkan kelangkaan dan isu smartphone gaib. Benjamin berpendapat bahwa itu semua di luar ekspektasi perusahaan. Dirinya juga mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengatasi ketersediaan barang.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan dan isu smartphone gaib? Benjamin menyebut bahwa mereka juga mempersiapkan hal itu dengan bekerja sama dengan seluruh rangkaian yang terlibat dalam rantai produksi. “We prepare that. But for the result? We never know,” jelasnya.


(ryn/JPC)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar